Haipadang.com – Program MagangHub Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menjadi salah satu jalur bagi lulusan perguruan tinggi untuk memasuki dunia kerja. Pengalaman Kaka Mauladi, lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menjadi contoh bagaimana program magang dapat berlanjut menjadi kesempatan kerja.
Kaka merupakan peserta program magang Kemnaker tahun 2025 yang ditempatkan di Promedia Group. Selama mengikuti program tersebut, ia menunjukkan kemampuan dan kinerja yang dinilai baik hingga akhirnya mendapat kepercayaan untuk bergabung sebagai karyawan kontrak. Hingga kini, Kaka masih bekerja di perusahaan tersebut.
Pengalaman itu mendapat perhatian dari CEO Promedia Group, Agus Sulistriyono, yang akrab disapa Sulis. Menurutnya, pelaksanaan program magang yang disertai pendampingan dapat memberikan manfaat bagi peserta sekaligus perusahaan, terutama dalam menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Tahun 2025 kami menerima tiga peserta magang dari Kemnaker. Ketiganya kami dampingi dan latih sama seperti karyawan lainnya. Hasilnya sangat bagus. Satu langsung kami terima bekerja, lainnya diterima kerja di perusahaan lainnya,” ujar Sulis.
Dari tiga peserta magang yang diterima Promedia Group pada 2025, satu orang melanjutkan karier di perusahaan tersebut, sedangkan dua peserta lainnya mendapatkan pekerjaan di perusahaan berbeda. Hasil ini menunjukkan bahwa manfaat program magang tidak hanya dapat dilihat dari pengalaman yang diperoleh selama pelatihan, tetapi juga dari peluang peserta mendapatkan pekerjaan setelah program berakhir.
CEO Promedia Usulkan Tracer Study Peserta Magang Kemnaker
Sulis menilai, program magang semestinya tidak hanya berorientasi pada pemberian pengalaman kerja dalam periode tertentu. Program tersebut juga perlu menjadi sarana untuk membangun kompetensi, keterampilan, serta karakter profesional peserta agar lebih siap menghadapi kebutuhan dunia kerja.
Di sisi lain, perusahaan juga dapat memanfaatkan program magang untuk mengenali potensi calon tenaga kerja. Namun, manfaat tersebut akan lebih optimal apabila pelaksanaannya didukung kurikulum, pendampingan, dan target kompetensi yang terukur.
Untuk meningkatkan kualitas lulusan program magang pemerintah, Sulis mengusulkan agar Kemnaker menerapkan sistem evaluasi dan pelacakan atau tracer study. Evaluasi tersebut perlu dilakukan terhadap peserta setelah menyelesaikan program, sekaligus kepada perusahaan yang menjadi penyelenggara magang.
Menurutnya, pelacakan setelah program berakhir diperlukan untuk mengetahui sejauh mana magang berhasil membantu peserta memperoleh pekerjaan. Status peserta perlu diketahui, baik yang direkrut oleh perusahaan tempat mereka menjalani magang, diterima di perusahaan lain, maupun yang masih mencari pekerjaan.
“Seharusnya ada tracking setelah program selesai. Apakah peserta diterima bekerja di perusahaan tempat magang, bekerja di perusahaan lain, atau masih mencari pekerjaan. Ini penting untuk mengukur keberhasilan program,” jelasnya.
Sulis juga menekankan pentingnya penilaian terhadap perusahaan penyelenggara. Perusahaan yang terbukti mampu membimbing peserta hingga mereka memperoleh pekerjaan, menurut dia, semestinya mendapatkan penilaian positif dalam evaluasi program.
Rekam jejak tersebut juga diusulkan menjadi salah satu pertimbangan dalam proses seleksi penyelenggara pada pembukaan program berikutnya. Dengan begitu, penentuan perusahaan peserta program tidak hanya didasarkan pada pemenuhan persyaratan administratif, tetapi juga mempertimbangkan hasil pembinaan dan penyerapan tenaga kerja.
“Misalnya dari tiga peserta magang di Promedia, satu bekerja di sini dan dua lagi diterima perusahaan lain. Artinya ada hasil nyata. Perusahaan dengan rekam jejak seperti ini mestinya mendapat poin positif dan diprioritaskan pada pembukaan program berikutnya,” katanya.
Pengajuan Magang Promedia pada 2026 Belum Disetujui
Sulis mengungkapkan, Promedia Group kembali mengajukan program magang pada 2026 sebanyak dua kali. Namun, kedua pengajuan tersebut belum mendapatkan persetujuan.