berita

Kisah Dika Riyanti, Guru Mentawai yang Bikin Siswa Tak Lagi Takut Bahasa Inggris

Selasa, 29 September 2026 | 17:33 WIB
Dika Riyanti bersama para siswanya (Foto: Dok Dika Riyanti)

Haipadang.com – Bagi sebagian siswa, berbicara Bahasa Inggris di depan teman-teman bisa menjadi pengalaman yang membuat gugup. Namun, kondisi itu perlahan berubah di SD Negeri 22 Tuapejat, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Melalui kegiatan sederhana yang dikemas dalam program Hello Friday dan English Club, siswa yang sebelumnya memilih diam karena takut salah kini justru mulai berebut kesempatan untuk tampil.

Perubahan tersebut dilakukan Dika Riyanti, guru di SD Negeri 22 Tuapejat. Selama mengajar, ia berupaya membangun suasana belajar yang membuat siswa tidak merasa takut ketika harus mencoba menggunakan Bahasa Inggris. Baginya, kesalahan dalam proses belajar bukan alasan bagi siswa untuk berhenti mencoba.

Kisah Dika tersebut dibagikan dalam acara Inspiring Educators 2026, graduation Wardah Inspiring Teacher (WIT) dan Inspiring Lecturer Program (ILP) 2026 yang digelar ParagonCorp di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

"Saya selalu berusaha menanamkan kepada mereka, 'Tidak apa-apa salah, yang penting berani mencoba.' Anak-anak perlu merasa bahwa kelas adalah ruang yang nyaman untuk belajar. Ketika mereka berani mencoba, dari situlah rasa percaya diri dan semangat belajar bisa tumbuh," kata Dika.

Bahasa Inggris Jadi Bekal Anak Mentawai

Pengalaman Dika selama delapan tahun mengajar di Mentawai membuatnya melihat pembelajaran Bahasa Inggris dari sudut pandang yang lebih luas. Bahasa Inggris dinilai memiliki kaitan dengan kehidupan anak-anak di daerah tersebut, terutama karena Kepulauan Mentawai dikenal sebagai salah satu destinasi selancar dunia.

Sebagian siswa Dika juga memiliki kegemaran berselancar. Aktivitas tersebut membuat mereka berpotensi bertemu dengan wisatawan mancanegara. Kondisi itu menjadi salah satu alasan Dika berusaha membuat pembelajaran Bahasa Inggris lebih dekat dengan kehidupan dan kemungkinan masa depan siswanya.

Menurutnya, kemampuan berbahasa Inggris dapat menjadi bekal ketika anak-anak berinteraksi dengan wisatawan yang datang ke Mentawai. Kemampuan tersebut juga dapat digunakan untuk memperkenalkan daerah mereka, membantu wisatawan menemukan arah, hingga membuka peluang untuk bekerja di sektor pariwisata.

"Mungkin suatu hari mereka bisa berkomunikasi dengan wisatawan, memperkenalkan daerahnya, membantu menunjukkan arah, atau bahkan bekerja di bidang pariwisata. Jadi belajar Bahasa Inggris bukan hanya tentang menghafalkan kosakata, tetapi membuka jendela kesempatan bagi mereka," ujarnya.

Meski memiliki potensi pemanfaatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Mentawai, Bahasa Inggris pada awal Dika mengajar masih menjadi hal yang relatif baru bagi para siswanya. Kosakata dasar, seperti nama-nama benda dan sapaan, belum menjadi bagian dari keseharian mereka.

Situasi tersebut juga membuat sebagian siswa merasa malu ketika harus mengucapkan kata-kata baru. Rasa takut melakukan kesalahan membuat beberapa anak memilih untuk tidak berbicara.

Dari Menghafal Kosakata hingga Berani Tampil

Dika kemudian mencoba mengubah pola pembelajaran dengan menerapkan pendekatan yang dipelajarinya selama mengikuti WIT. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah pembelajaran berbasis proyek melalui metode Card Crafting English.

Dalam metode tersebut, siswa tidak hanya diminta menghafalkan kosakata. Mereka dilibatkan untuk membuat kartu kosakata sendiri, berdiskusi bersama, kemudian berlatih mengucapkan kata-kata yang telah dipelajari.

Pembelajaran juga tidak berhenti di dalam kelas. Setiap Jumat, Dika menjalankan kegiatan Hello Friday. Dalam kegiatan ini, siswa mendapatkan kesempatan tampil secara bergiliran di lapangan sekolah.

Materi yang ditampilkan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa. Mereka dapat memperkenalkan diri, menyebutkan kosakata Bahasa Inggris, maupun melakukan percakapan sederhana.

Halaman:

Tags

Terkini