Sementara itu, kesempatan untuk terus berlatih diberikan melalui English Club yang dibuka Dika setiap Sabtu. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk bermain sekaligus menggunakan Bahasa Inggris di luar jam pelajaran reguler.
Perubahan yang diharapkan Dika tidak langsung terlihat sejak awal. Beberapa siswa masih berbicara dengan suara terlalu pelan ketika tampil. Ada pula yang tiba-tiba lupa kosakata saat berada di depan teman-temannya. Sebagian lainnya masih merasa malu untuk berdiri dan berbicara di hadapan orang lain.
Namun, proses tersebut perlahan menunjukkan hasil. Keberanian siswa mulai tumbuh seiring dengan semakin seringnya mereka mendapatkan kesempatan untuk mencoba. Anak-anak yang sebelumnya pasif mulai berani mengangkat tangan dan aktif mengajukan pertanyaan.
Bahkan, permintaan untuk mendapatkan giliran tampil mulai datang dari siswa itu sendiri.
"Bu, minggu depan saya boleh tampil?" begitu pertanyaan yang kini sering ia dengar dari murid-muridnya.
Bagi Dika, pertanyaan tersebut menjadi salah satu bentuk keberhasilan yang tidak selalu dapat terlihat melalui nilai ujian. Keberhasilan pembelajaran, menurutnya, juga dapat dilihat dari perubahan sikap siswa terhadap proses belajar.
"Ada keberhasilan yang jauh lebih berarti ketika seorang anak yang sebelumnya berkata 'saya tidak bisa' kemudian berubah menjadi 'saya mau mencoba'. Mereka mungkin belum fasih dan masih sering salah, tetapi sudah tidak takut lagi untuk mencoba. Itulah awal dari sebuah perubahan," tuturnya.
Bagian dari Program WIT 2026
Dika Riyanti merupakan satu dari 5.000 guru yang dinyatakan lulus dari program WIT 2026. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan kapasitas pendidik melalui WIT bersama ILP.
Sejak 2017, program WIT dan ILP telah menjangkau lebih dari 43.000 guru dan dosen yang tersebar di 38 provinsi.
Bagi Dika, pengalaman tersebut kemudian diterapkan dalam kegiatan belajar bersama siswa di SD Negeri 22 Tuapejat. Pendekatan yang digunakan tidak hanya menempatkan Bahasa Inggris sebagai materi yang perlu dihafalkan, tetapi juga memberikan ruang kepada siswa untuk membuat karya, berlatih, tampil, dan membangun keberanian.
Di tengah proses tersebut, perubahan paling terlihat bukan semata-mata pada kemampuan siswa mengucapkan kosakata Bahasa Inggris. Hal yang mulai muncul adalah keberanian untuk mencoba meski masih melakukan kesalahan.
Dari lapangan sekolah setiap Jumat hingga kegiatan English Club pada Sabtu, siswa mendapatkan ruang untuk berlatih secara bertahap. Bagi Dika, keberanian sederhana untuk mengangkat tangan dan meminta kesempatan tampil menjadi bagian penting dari proses belajar yang lebih besar. (*)