berita

Sulam Kapalo Samek Dibawa ke Den Haag, Lanjut Dipromosikan di Amsterdam

Kamis, 8 Oktober 2026 | 07:26 WIB
Sulam Kapalo Samek diserahkan kepada Wakil Kepala Perwakilan KBRI Den Haag, Mariska Dwianti Dhanutirto, di Den Haag, Selasa (6/10/2026). (Foto: Kominfo Padang Pariaman)

Haipadang.com – Perjalanan Sulam Kapalo Samek dari Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) ke Eropa memasuki babak baru. Setelah sebelumnya tampil dalam rangkaian Indonesia Creative Week Belgium (ICWB) 2026 di Antwerp dan Brussels, Belgia, karya kriya khas Padang Pariaman tersebut kini tiba di Belanda dan diarahkan menjadi bagian dari ruang promosi budaya Indonesia di Amsterdam.

Karya Sulam Kapalo Samek diserahkan Ketua Dekranasda Kabupaten Padang Pariaman, Nita Christanti Azis, kepada Wakil Kepala Perwakilan KBRI Den Haag, Mariska Dwianti Dhanutirto, di Den Haag, Selasa (6/10/2026).

Penyerahan itu bukan sekadar perpindahan karya dari satu negara ke negara lain. Bagi Padang Pariaman, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas diplomasi budaya sekaligus membuka peluang promosi bagi produk kriya dan UMKM daerah di tingkat internasional.

Setelah memperoleh ruang untuk tampil dalam ICWB 2026 dan diperkenalkan melalui kolaborasi dengan desainer nasional Itang Yunaz di Belgia, keberadaan Sulam Kapalo Samek di Belanda diarahkan untuk memperkuat jejaring promosi. Langkah tersebut sekaligus diharapkan mendukung keberlanjutan karya para perajin yang selama ini menjadi penjaga warisan kriya tersebut.

Nita mengatakan, membawa Sulam Kapalo Samek ke Eropa memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar memperkenalkan sebuah produk kerajinan. Karya tersebut membawa identitas, cerita, serta kekayaan budaya Padang Pariaman untuk diperkenalkan kepada masyarakat internasional.

Menurutnya, terdapat tiga sasaran utama yang ingin dicapai melalui perjalanan Sulam Kapalo Samek ke Eropa. Pertama, menjaga sekaligus melestarikan budaya. Kedua, memperkenalkan dan mempromosikan produk UMKM Padang Pariaman. Ketiga, menciptakan manfaat ekonomi yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan para perajin.

“Yang kami bawa bukan hanya sulaman, tetapi juga identitas dan budaya Padang Pariaman. Kami ingin warisan ini tetap hidup, dikenal lebih luas, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi para perajinnya,” ujar Nita, dikutip Kamis (8/10/2026).

Tidak Cukup Menjaga Motif Tradisional

Nita menilai perjalanan Sulam Kapalo Samek di Eropa seharusnya tidak berhenti pada kegiatan pameran atau pengenalan produk. Momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk membangun ekosistem yang dapat menjaga keberlangsungan kriya sekaligus memberikan masa depan bagi para perajin.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan bentuk dan motif tradisional. Keberadaan orang-orang yang menguasai keterampilan membuat sulaman juga harus menjadi perhatian. Hal tersebut berkaitan dengan keberlanjutan regenerasi agar generasi muda memiliki ketertarikan untuk meneruskan pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan tersebut.

Pengalaman di Belgia memperlihatkan salah satu cara agar Sulam Kapalo Samek dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Di sana, sulaman tersebut tidak hanya diperkenalkan sebagai produk tradisional, tetapi juga dikembangkan melalui pendekatan desain dan fesyen.

Dalam rangkaian ICWB 2026, sejumlah karya Sulam Kapalo Samek ditampilkan melalui rancangan busana yang dikembangkan bersama desainer nasional Itang Yunaz. Kolaborasi tersebut memperlihatkan kemungkinan untuk membawa kriya tradisional ke ruang yang lebih luas tanpa harus menghilangkan karakter serta identitas budaya yang melekat di dalamnya.

Pendekatan desain dan fesyen tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan Sulam Kapalo Samek sebelum karya para perajin Padang Pariaman melanjutkan perjalanan ke Belanda.

Sebelumnya, pada 2 Oktober 2026, Sulam Kapalo Samek juga telah diserahkan kepada Duta Besar RI untuk Kerajaan Belgia, Andy Rachmianto. Karya tersebut disiapkan untuk menjadi bagian dari koleksi yang dipajang di KBRI Brussels.

Keberadaan Sulam Kapalo Samek di KBRI Brussels kemudian dilanjutkan dengan tampilnya karya tersebut dalam ICWB 2026 di Antwerp. Dari rangkaian kegiatan di Belgia itu, perjalanan Sulam Kapalo Samek selanjutnya berlanjut ke Den Haag.

Halaman:

Tags

Terkini