Dinda Kirana Sebut Penyesalan Jadi Inti Cerita
Bagi Dinda Kirana, cerita yang dibawa melalui lagu “Timpang” memiliki keterkaitan kuat dengan rasa penyesalan. Karakter Nisa yang mengalami kehilangan membuat pesan tersebut menjadi semakin kuat dalam video klip.
Dinda melihat penyesalan sebagai sesuatu yang muncul ketika seseorang tidak menjaga cinta yang sebenarnya sudah dimiliki.
“Ini sebuah penyesalan yang mendalam, penyesalan yang tidak bisa kita ulang kembali. Sesuatu yang kita anggap mudah, karena merasa cinta itu sudah ada dan selalu ada, ternyata tidak dijaga. Akhirnya menjadi penyesalan yang besar sekali, dan itu tidak mudah untuk disembuhkan. Butuh proses yang panjang,” kata Dinda Kirana.
Pernyataan tersebut menggambarkan salah satu gagasan utama yang dibawa “Timpang”, yakni kesadaran tentang nilai sebuah hubungan yang terkadang baru muncul setelah kehilangan terjadi.
Theo Supple juga melihat cerita dalam “Timpang” tidak sekadar menggambarkan patah hati dalam pengertian umum. Menurutnya, emosi yang dibangun dalam lagu dan video klip tersebut memiliki lapisan yang lebih dalam.
“Ini bukan sekadar heartbreak. Ini jauh, jauh lebih dalam dari itu,” ujar Theo Supple.
Bagoes Tresna Sesuaikan Visual dengan Emosi Lagu
Di balik penggarapan video klip “Timpang”, Bagoes Tresna berusaha menerjemahkan pesan lagu ke dalam rangkaian visual yang tetap memberikan ruang bagi musik untuk berbicara.
Bagoes melihat “Timpang” sebagai lagu curhatan mengenai seseorang yang menyayangi pasangannya, tetapi tidak mendapatkan respons kasih sayang yang sama. Kondisi tersebut digambarkan melalui pasangan yang tidak memperhatikan ketika diajak berbicara, tetapi baru menunjukkan kepedulian ketika pasangannya memilih diam.
Perasaan tersebut kemudian menjadi dasar bagi Bagoes dalam menyusun treatment video klip. Ia berupaya membuat visual yang dapat memperkuat emosi lagu tanpa mengambil alih perhatian dari musiknya.
“Visual memang sangat penting dalam video klip, tetapi saya berusaha agar visualnya tidak menjadi lebih dominan daripada lagunya. Karena itu, treatment yang saya buat selalu menyesuaikan dengan lantunan lagu. Ketika ada kecemasan, amarah, depresi, atau kesenangan, saya mencoba menyesuaikannya dengan nafas adegan tersebut,” ujar Bagoes Tresna.
Pendekatan tersebut membuat perjalanan emosi para karakter menjadi salah satu bagian yang menonjol dalam video klip. Perasaan cemas, marah, depresi, hingga kesenangan berusaha diselaraskan dengan perkembangan adegan dan lantunan lagu.
Gloria Jessica Sebut Konsep “Timpang” Lebih Kompleks
Gloria Jessica turut memberikan pandangannya mengenai konsep video klip “Timpang”. Ia menilai cerita yang disiapkan untuk lagu tersebut memiliki kekuatan tersendiri, terutama dalam menggambarkan ketimpangan sebuah hubungan.
“Konsepnya luar biasa. Setelah kami membacanya, konsep itu dijelaskan ulang saat meeting, dan kami merasa ini akan menjadi salah satu video klip yang paling dalam. Makna lagunya semakin ditekankan di semesta album ini lewat ketimpangan sebuah hubungan. Kompleksitas ceritanya juga berbeda dengan video klip sebelumnya,” tutup Gloria Jessica.
Konsep tersebut sekaligus memperluas cerita yang dibangun melalui album “Blue.”. Lagu “Timpang” tidak hanya ditempatkan sebagai sebuah lagu tentang hubungan yang berakhir, tetapi membawa pesan mengenai pentingnya menghargai cinta ketika hubungan tersebut masih dimiliki.
Lagu “Timpang” bercerita tentang cinta yang baru terasa berharga setelah seseorang kehilangan orang yang dicintainya. Pesan yang ingin disampaikan melalui lagu tersebut sederhana, yakni pentingnya menghargai dan merawat cinta yang dimiliki agar penyesalan tidak datang di kemudian hari.