Oleh : Gao Beili
Haipadang.com – Pernahkah Anda berniat ke supermarket hanya untuk membeli satu kotak susu, tetapi keluar dengan troli penuh berisi camilan, sabun aroma baru, hingga pajangan rumah? Anda tidak sendirian. Dan jangan terburu-buru menyalahkan sifat boros Anda, karena bisa jadi Anda sedang berada di bawah pengaruh hipnotis halus dari musik latar (background music).
Di dalam dunia psikologi ritel, musik bukan sekadar pengusir sepi bagi kasir yang berjaga. Musik adalah arsitek tak terlihat yang didesain untuk mengatur seberapa cepat Anda berjalan dan seberapa banyak uang yang Anda keluarkan.
Musik Lambat: Rem Otomatis untuk Langkah Kaki Anda
Supermarket atau toko ritel besar biasanya memutar lagu-lagu dengan tempo lambat, instrumental tenang, atau musik pop mendayu-dayu. Mengapa mereka tidak memutar musik upbeat yang penuh semangat?
Riset penting dari Profesor Ronald Milliman menunjukkan bahwa ketika supermarket memutar musik bertempo lambat, kecepatan berjalan para pengunjung otomatis melambat secara signifikan. Otak kita menyelaraskan detak jantung dan ritme motorik tubuh dengan ketukan musik yang tenang.
Dampak bisnisnya sangat masif:
Mata Lebih Banyak Menatap Produk: Saat langkah kaki melambat, mata Anda punya lebih banyak waktu untuk memindai rak-rak toko.
Impulsive Buying (Belanja Spontan): Semakin lama Anda tertahan di sebuah lorong (aisle), semakin besar peluang Anda untuk mengambil barang yang sebenarnya tidak ada di daftar belanjaan. Dalam penelitian tersebut, melambatnya musik bahkan berhasil mendongkrak penjualan ritel hingga 38%!
Musik Klasik: Trik Membuat Barang Terasa "Mewah"
Lain supermarket, lain pula toko pakaian atau butik eksklusif. Pernahkah Anda masuk ke toko dan mendengar musik klasik atau jazz modern? Ini adalah taktik untuk memengaruhi persepsi kualitas.
Sebuah studi terkenal dari Profesor Adrian North dan timnya yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Psychology menguji bagaimana jenis musik mengubah cara kita menilai sebuah produk. Ketika musik klasik diputar, konsumen cenderung mempersepsikan toko dan barang di dalamnya jauh lebih berkelas serta elegan.
Menariknya, musik klasik tidak membuat orang membeli lebih banyak barang, melainkan membuat mereka rela merogoh kocek lebih dalam untuk barang yang sama. Otak kita secara otomatis mengasosiasikan musik klasik dengan status sosial dan kemewahan, sehingga harga tinggi di label baju mendadak terasa masuk akal dan layak dibeli.
Manipulasi Waktu di Antrean Kasir
Musik juga punya kekuatan ajaib untuk memanipulasi waktu. Saat Anda mengantre di kasir yang panjang, musik yang menyenangkan membuat waktu tunggu terasa lebih singkat. Otak yang terhibur oleh lagu favorit akan mengalihkan fokus dari rasa bosan, sehingga Anda tidak jadi mengurungkan niat untuk belanja.
Jadi, ketika akhir pekan ini Anda melangkah ke pusat perbelanjaan dan merasa betah berlama-lama di sana, coba pasang telinga Anda. Sadarilah bahwa lagu syahdu yang sedang mengalun itu sedang bekerja keras merayu Anda agar tidak cepat-cepat pulang. (*)