Sulam Kapalo Samek Masuk Wereld Museum Rotterdam Belanda

Photo Author
Redaksi, HaiPadang.com
- Jumat, 9 Oktober 2026 | 01:55 WIB
Penyerahan Sulam Kapalo Samek kepada pihak perwakilan Wereld Museum Rotterdam. (Foto: Pemkab Padang Pariaman)
Penyerahan Sulam Kapalo Samek kepada pihak perwakilan Wereld Museum Rotterdam. (Foto: Pemkab Padang Pariaman)

Haipadang.com — Karya sulam tradisional Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), Sulam Kapalo Samek, kembali mendapat ruang untuk diperkenalkan di ranah kebudayaan internasional. Warisan seni sulam yang diwariskan secara turun-temurun tersebut diserahkan kepada Wereld Museum Rotterdam, Belanda, sebagai bagian dari upaya memperluas pengenalan budaya Ranah Minang kepada masyarakat dunia.

Penyerahan Sulam Kapalo Samek dilakukan Ketua Dekranasda Kabupaten Padang Pariaman Nita Christanti Azis kepada perwakilan Wereld Museum Rotterdam, Marjolein Van Asdonck, pada, Rabu (7/10/2026). Prosesi tersebut berlangsung langsung di Wereld Museum Rotterdam yang beralamat di Willemskade 25, Rotterdam.

Bagi Padang Pariaman, masuknya Sulam Kapalo Samek ke lingkungan museum tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan hasil karya para perajin daerah ke masyarakat yang lebih luas. Karya tersebut tidak hanya memperlihatkan nilai estetika, tetapi juga merepresentasikan keterampilan dan ketekunan yang dipertahankan melalui pewarisan antargenerasi.

“Keberadaan Sulam Kapalo Samek di museum tersebut menjadi bagian penting dari upaya memperkenalkan karya perajin Padang Pariaman yang memiliki nilai seni, ketekunan, serta tradisi yang diwariskan antargenerasi,” ujar Nita, dikutip Jumat (9/10/2026).

Sulam Kapalo Samek memiliki arti lebih dari sekadar hasil kerajinan bagi masyarakat Padang Pariaman. Setiap pola dan tusuk sulam yang terdapat dalam karya tersebut menyimpan keterampilan sekaligus pengetahuan budaya yang selama ini dipelihara para perajin dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Keberadaan karya tersebut di Wereld Museum Rotterdam membuka ruang yang lebih luas bagi warisan seni sulam Padang Pariaman untuk diperkenalkan di lingkungan kebudayaan internasional. Penyerahan itu juga menjadi salah satu langkah dalam memperluas pengenalan khazanah budaya Ranah Minang kepada masyarakat dunia.

Setelah menerima Sulam Kapalo Samek, pihak Wereld Museum Rotterdam tidak langsung menempatkannya sebagai bagian dari koleksi atau tata pamer. Marjolein Van Asdonck menjelaskan bahwa karya tersebut terlebih dahulu akan menjalani sejumlah tahapan kurasi yang dilakukan oleh pihak yang berkompeten di museum tersebut.

Tahapan kurasi merupakan bagian dari proses museum dalam menilai dan mempersiapkan benda budaya sebelum nantinya dapat ditempatkan pada koleksi maupun tata pamer yang sesuai. Dengan demikian, Sulam Kapalo Samek akan melalui proses tersebut sebelum ditentukan penempatan yang sesuai di lingkungan museum.

Wereld Museum Rotterdam dikenal sebagai museum etnografi yang menyimpan beragam artefak budaya dari berbagai penjuru dunia. Koleksi museum tersebut mencakup kekayaan budaya dari Asia, Afrika, Oseania hingga Amerika.

Selain menyimpan beragam artefak budaya, Wereld Museum Rotterdam juga menghadirkan berbagai kegiatan kebudayaan. Di antaranya pameran, lokakarya budaya, serta dialog lintas bangsa yang mempertemukan beragam perspektif kebudayaan dari berbagai belahan dunia.

Diterimanya Sulam Kapalo Samek di Wereld Museum Rotterdam menjadi kesempatan bagi karya para perajin Padang Pariaman untuk memperoleh ruang pengenalan yang lebih luas. Warisan seni sulam tersebut kini hadir dalam lingkungan kebudayaan internasional sekaligus membawa khazanah budaya Ranah Minang untuk lebih dikenal masyarakat dunia.

Bagi Padang Pariaman, kehadiran Sulam Kapalo Samek di museum tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya lokal. Keterampilan, pola, dan pengetahuan budaya yang melekat pada karya sulam tersebut diharapkan tetap hidup dan terus dikenali oleh generasi mendatang. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indra Kurniawan

Tags

Rekomendasi

Terkini

X