berita

Membaca Jejak Galodo Arosuka dari Udara, Longsor Diduga Berawal di Lereng Talang

Rabu, 30 September 2026 | 15:41 WIB
Jejak sumber galodo Solok yang diduga berasal dari lereng atas Gunung Talang. (Foto: Tangkap Layar Video Drone Instagram ib.hobbies)

Haipadang.com – Galodo yang menerjang Arosuka, Kabupaten Solok, pada Senin malam (21/9/2026) lalu, tidak hanya perlu dilihat dari kawasan yang terdampak. Jejak bencana tersebut juga dapat ditelusuri ke wilayah hulu, khususnya lereng atas Gunung Talang dan kawasan hulu Batang Laso.

Dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand), Prof. Dian Fiantis, membaca jejak galodo tersebut melalui rekaman drone, citra Google Earth, serta analisis Digital Elevation Model (DEM).

Peristiwa galodo di Arosuka sebelumnya menjadi perhatian karena material berupa lumpur, batu, dan material lainnya menutup sejumlah ruas jalan serta berdampak pada fasilitas pemerintahan. Material tersebut terbawa oleh aliran yang datang dari wilayah lebih tinggi.

Namun, untuk memahami dari mana material itu berasal dan bagaimana dapat mencapai Arosuka, perhatian perlu diarahkan ke kawasan hulu.

Hujan dengan intensitas 94 milimeter per hari tercatat mengguyur wilayah Solok sejak sore sebelum kejadian. Laporan BPBD dan kepolisian juga menyebut adanya peningkatan debit aliran serta longsor di kawasan perbukitan sekitar hulu Batang Laso.

Material longsor tersebut kemudian terbawa menuju Arosuka hingga mencapai Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Solok.

Jejak Longsor Terlihat dari Udara

Beberapa hari setelah kejadian, rekaman drone yang beredar di media sosial memperlihatkan adanya dua jalur tanah berwarna merah kecokelatan di tengah kawasan yang masih didominasi tutupan hutan.

Salah satu jejak tersebut terlihat jauh lebih besar dan memanjang dari kawasan dekat punggungan hingga menuruni lereng. Sementara satu jejak lainnya tampak lebih sempit.

Kedua jejak tersebut kemudian bertemu membentuk pola menyerupai huruf Y sebelum memasuki lembah yang lebih sempit.

Bentuk tersebut menjadi bagian penting dalam membaca kemungkinan jalur pergerakan material. Sebab, material yang terlepas dari lereng tidak berhenti begitu saja pada bagian bawah longsoran.

“Tanah, batuan, pohon, dan bahan organik yang runtuh dapat segera memasuki saluran air dan selanjutnya bergerak menuju tempat yang lebih rendah,” kata Dian dalam analisisnya, dilansir dari Kepakaran Unand, Rabu (30/9/2026).

Jejak berwarna merah kecokelatan itu kemudian terlihat mengikuti dasar lembah. Kondisi tersebut menunjukkan fungsi lembah sebagai jalur aliran air sekaligus koridor transportasi sedimen.

Dalam proses tersebut, longsor menjadi sumber material, sedangkan air dan bentuk topografi menyediakan media serta energi yang memungkinkan material bergerak menuju wilayah lebih rendah.

Dicocokkan dengan Lanskap Gunung Talang

Untuk mengetahui posisi jejak longsor tersebut, rekaman drone kemudian dibandingkan dengan bentang alam Gunung Talang menggunakan Google Earth.

Halaman:

Tags

Terkini