berita

Guru Harus Pahami Keunikan Anak, Hindari Label Lambat Belajar

Minggu, 11 Oktober 2026 | 20:05 WIB
Ilustrasi sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar. (Foto: indonesia.go.id)

Haipadang.com – Guru perlu memahami bahwa setiap anak memiliki kemampuan, karakter, dan kecepatan belajar yang berbeda. Peserta didik yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami pelajaran tidak seharusnya langsung dicap lambat belajar. Sebaliknya, guru perlu mengenali kebutuhan setiap anak dan memberikan pendampingan yang sesuai agar mereka dapat mengembangkan potensinya.

Pesan tersebut disampaikan Bunda Inklusi Kabupaten Tanah Datar, Lise Eka Putra, saat membuka kegiatan penguatan kompetensi guru melalui psikoedukasi penanganan anak inklusif dan implementasi pembelajaran berdiferensiasi bagi guru kelas Fase A. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Kantor Wali Nagari Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sabtu (10/10/2026).

Lise mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, seperti kemampuan membaca dan berhitung. Guru juga perlu memperhatikan proses belajar, perkembangan, serta kebutuhan masing-masing peserta didik.

Menurutnya, perbedaan kemampuan anak bukan alasan untuk membatasi kesempatan mereka dalam memperoleh pendidikan yang baik. Setiap anak memiliki potensi yang dapat berkembang apabila mendapatkan perhatian, kesempatan, dan pendampingan yang tepat.

“Setiap anak memiliki kemampuan, karakter, dan kebutuhan yang berbeda. Namun, semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang baik, kesempatan untuk berkembang, serta dukungan sesuai dengan kebutuhannya,” ujarnya.

Guru Perlu Menghindari Pelabelan Negatif

Lise menekankan pentingnya menjaga perasaan dan kepercayaan diri anak selama menjalani proses pendidikan. Menurutnya, perkataan guru dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri, termasuk ketika mereka menghadapi kesulitan dalam belajar.

Karena itu, ia mengajak para pendidik untuk tidak memberikan label negatif kepada peserta didik, seperti menyebut mereka lambat atau bandel. Guru perlu memahami bahwa setiap anak memiliki proses belajar yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

Pelabelan negatif dikhawatirkan membuat anak merasa tidak mampu, takut mencoba, atau kehilangan kepercayaan diri. Padahal, lingkungan sekolah semestinya memberikan ruang bagi setiap peserta didik untuk belajar, berkembang, dan mengenali potensi yang dimiliki.

“Jangan sampai ada anak yang merasa dirinya bodoh, takut mencoba, atau merasa tidak berharga hanya karena cara belajarnya berbeda. Sekolah harus menjadi tempat setiap anak diterima, dihargai, dan dibantu untuk menemukan potensi terbaiknya,” pesannya.

Ia juga menjelaskan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengakomodasi perbedaan kebutuhan peserta didik. Melalui pendekatan ini, guru menyesuaikan proses pembelajaran dengan kesiapan, kemampuan, minat, dan kebutuhan anak.

Dengan penyesuaian tersebut, peserta didik diharapkan dapat mengikuti pembelajaran secara lebih nyaman dan mengembangkan potensinya secara optimal. Guru pun diharapkan tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi turut memperhatikan proses yang dijalani setiap anak dalam memahami materi pelajaran.

Kompetensi Guru dalam Pendidikan Inklusif Perlu Ditingkatkan

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan atau Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Fadriati, menegaskan pentingnya meningkatkan kompetensi guru dalam memahami karakteristik dan kebutuhan peserta didik, terutama anak berkebutuhan khusus.

Menurut Fadriati, sekolah berkewajiban memberikan kesempatan pendidikan kepada semua anak. Namun, terdapat kebutuhan tertentu yang tidak selalu mudah dikenali sehingga berpotensi luput dari perhatian hingga anak memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

“Sekolah wajib menerima semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus. Namun, ada kebutuhan anak yang terkadang tidak mudah dikenali sehingga luput dari perhatian hingga mereka memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” jelasnya.

Halaman:

Tags

Terkini