Turuk Langgai Tampil Memukau di Saraso Fest 2026, Angkat Kisah Satwa Endemik Mentawai

Photo Author
Redaksi, HaiPadang.com
- Kamis, 1 Oktober 2026 | 19:09 WIB
Komunitas Sinuruk Mentawai saat tampil di Panggung Pekan Kebudayaan Daerah Sumbar bertajuk Saraso Fest 2026, Rabu malam (30/9/2026). (Foto: Istimewa)
Komunitas Sinuruk Mentawai saat tampil di Panggung Pekan Kebudayaan Daerah Sumbar bertajuk Saraso Fest 2026, Rabu malam (30/9/2026). (Foto: Istimewa)

Haipadang.com – Panggung Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumatera Barat (Sumbar) bertajuk Saraso Fest 2026 menjadi ruang bagi generasi muda Mentawai untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga alam dan warisan budaya. Pesan itu disampaikan melalui Turuk Langgai, tarian tradisional yang terinspirasi dari kehidupan satwa liar di hutan Mentawai.

Pertunjukan tersebut dibawakan Komunitas Sinuruk Mentawai yang beranggotakan para pemuda dari Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Mereka tampil di Taman Budaya Sumbar, pada Rabu (30/9/2026) malam.

Turuk Langgai yang mereka tampilkan tidak hanya mengandalkan gerak tari dan musik tradisional. Di balik pertunjukan tersebut terdapat gambaran hubungan masyarakat Mentawai dengan alam, sekaligus pesan mengenai pentingnya menjaga lingkungan yang menjadi tempat hidup manusia dan satwa.

Penampilan Komunitas Sinuruk Mentawai itu memiliki cerita tersendiri. Rombongan harus menempuh perjalanan dari Pulau Siberut menuju Padang menggunakan Kapal Mentawai Express. Mereka sebenarnya dijadwalkan tampil pada Selasa (29/9/2026).

Namun, perjalanan laut dari Pulau Siberut yang memerlukan waktu cukup panjang membuat rombongan tidak dapat tiba tepat waktu untuk mengikuti jadwal pementasan. Panitia kemudian memberikan kesempatan kepada mereka untuk tampil pada hari berikutnya.

Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik. Saat tampil, para pemuda Mentawai tersebut akhirnya naik ke panggung Taman Budaya Sumbar dan membawakan Turuk Langgai di hadapan penonton Saraso Fest 2026.

Salah seorang penari, Ardi Surinosakulo, menjelaskan bahwa Turuk Langgai mengambil inspirasi dari kehidupan satwa yang berada di alam. Tarian tersebut mengisahkan Uliat Manyang dan Bilou.

Melalui gerakan tubuh dan ekspresi para penari, karakter burung dan bilou, primata endemik Kepulauan Mentawai, coba ditampilkan dalam sebuah pertunjukan yang menggambarkan kehidupan satwa di lingkungan alaminya.

"Penampilan yang kami tampilkan tadi adalah bagaimana menirukan keadaan alam, tata cara hewan bebas di alam liar. Seekor burung dan seekor monyet bercengkerama di dalam hutan yang asri, di hutan yang tidak dirusak, hutan yang kita jaga. Hutan Mentawai adalah tempatnya hewan endemik dan juga rumah kita orang Mentawai," ujar Ardi.

Bagi Ardi dan Komunitas Sinuruk Mentawai, Turuk Langgai tidak berhenti sebagai pertunjukan seni. Tarian tersebut memiliki hubungan dengan filosofi kehidupan dan sistem kepercayaan masyarakat Mentawai, termasuk cara masyarakat memandang lingkungan di sekitarnya.

Gerakan-gerakan dalam Turuk Langgai menjadi bentuk ungkapan syukur sekaligus penghormatan kepada alam. Alam dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Mentawai karena telah memberikan kehidupan selama berabad-abad.

Pesan tersebut kemudian disampaikan melalui gerak yang menggambarkan perilaku satwa di hutan. Burung dan bilou menjadi bagian dari cerita yang dibawa ke atas panggung, sekaligus memperlihatkan keterkaitan antara budaya, kehidupan masyarakat, dan lingkungan alam Mentawai.

Pertunjukan itu semakin kuat dengan kehadiran musik tradisional. Para penampil menggunakan gajeuma, alat musik pukul tradisional berbentuk panjang, sebagai salah satu instrumen pengiring.

Namun, perjalanan dari Siberut menuju Padang membuat mereka menghadapi keterbatasan dalam membawa perlengkapan. Instrumen sinai urung tidak dapat dibawa karena kapasitas barang bawaan yang terbatas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Indra Kurniawan

Tags

X