Turuk Langgai Tampil Memukau di Saraso Fest 2026, Angkat Kisah Satwa Endemik Mentawai

Photo Author
Redaksi, HaiPadang.com
- Kamis, 1 Oktober 2026 | 19:09 WIB
Komunitas Sinuruk Mentawai saat tampil di Panggung Pekan Kebudayaan Daerah Sumbar bertajuk Saraso Fest 2026, Rabu malam (30/9/2026). (Foto: Istimewa)
Komunitas Sinuruk Mentawai saat tampil di Panggung Pekan Kebudayaan Daerah Sumbar bertajuk Saraso Fest 2026, Rabu malam (30/9/2026). (Foto: Istimewa)

Kondisi tersebut tidak menghentikan kreativitas mereka. Sebagai pengganti sinai urung, para pemusik memanfaatkan botol kaleng untuk menghasilkan ketukan. Instrumen pengganti itu tetap mampu menciptakan irama yang selaras dengan pertunjukan Turuk Langgai.

Ada hal lain yang membuat penampilan Komunitas Sinuruk Mentawai menjadi istimewa. Seluruh penari dan pemusik yang tampil merupakan generasi muda.

Kehadiran mereka di panggung kebudayaan di ibu kota Provinsi Sumbar bukan sekadar kesempatan menunjukkan kemampuan seni. Mereka juga membawa tanggung jawab untuk mempertahankan warisan budaya Mentawai agar tetap dikenal dan diteruskan.

Ardi mengatakan pelestarian budaya menjadi salah satu alasan mereka terus mengenalkan kesenian Mentawai kepada masyarakat.

"Motivasinya adalah mari kita menjaga budaya kita, karena budaya adalah identitas kita orang Mentawai," tegas Ardi.

Pesan tersebut juga ditujukan kepada generasi muda Mentawai. Ardi berharap anak-anak muda tidak meninggalkan budaya daerah di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Menurutnya, perkembangan teknologi tidak semestinya membuat generasi muda menjauh dari adat dan budaya. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai media untuk memperkenalkan serta menyuarakan adat istiadat Mentawai.

"Harapan kami untuk anak muda, mari kita mengenal budaya kita lebih dalam lagi. Jangan terbawa suasana oleh teknologi, mari kita jadikan teknologi itu sebagai sarana bagaimana kita menyuarakan adat istiadat kita," katanya.

Bagi Komunitas Sinuruk Mentawai, memperkenalkan budaya melalui ruang pertunjukan menjadi salah satu cara untuk menjaga keberadaan warisan leluhur. Turuk Langgai menjadi contoh bagaimana kesenian tradisional dapat membawa pesan yang lebih luas, termasuk tentang hubungan manusia dengan alam.

Melalui gerakan yang menirukan satwa dan iringan musik tradisional, mereka menghadirkan gambaran kehidupan di hutan Mentawai. Pesan tentang hutan yang tidak dirusak dan pentingnya menjaga lingkungan pun menjadi bagian dari pertunjukan yang mereka bawa ke Saraso Fest 2026.

Ardi juga menyampaikan harapan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar dan Dinas Kebudayaan agar terus memberikan perhatian terhadap kesenian dan kebudayaan Mentawai. Menurutnya, dukungan dan fasilitasi pemerintah diperlukan agar seni budaya Bumi Sikerei dapat terus hidup dan berkembang.

Ia berharap Mentawai tidak ditinggalkan dalam upaya pengembangan kebudayaan di Sumbar. Kesenian yang diwariskan dari generasi sebelumnya diharapkan memperoleh ruang yang lebih luas untuk diperkenalkan.

"Mari kita bersama-sama menjaga hasil karya kita, hasil alam kita, hasil budaya kita. Kami berharap jangan meninggalkan kami, terutama Mentawai. Mari Sumatera Barat memakai kami lebih lanjut agar budaya ini senantiasa terpancar sampai ke belahan dunia," pungkasnya. (*)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Indra Kurniawan

Tags

X