Dharmasraya Masuk Kategori Waspada Cuaca Ekstrem hingga 1 Oktober, Warga Diminta Siaga

Photo Author
Redaksi, HaiPadang.com
- Selasa, 29 September 2026 | 23:40 WIB
Ilustrasi Cuaca Ekstrem (Foto: Pixabay)
Ilustrasi Cuaca Ekstrem (Foto: Pixabay)

Haipadang.com – Kabupaten Dharmasraya masuk dalam kategori waspada berdasarkan peringatan dini cuaca yang dikeluarkan Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau. Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dharmasraya meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung pada 29 September hingga 1 Oktober 2026.

Peringatan tersebut menjadi perhatian karena hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang cukup lama berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi. Banjir dan longsor menjadi sejumlah kejadian yang perlu diantisipasi masyarakat selama periode tersebut.

Imbauan kepada masyarakat disampaikan Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Dharmasraya, Medison, pada Selasa (29/9/2026).

Menghadapi kondisi cuaca tersebut, jajaran pemerintah daerah telah diminta memperkuat kesiapsiagaan, baik dari sisi personel maupun peralatan penanggulangan bencana. Instruksi tersebut terutama ditujukan kepada unsur yang berkaitan langsung dengan penanganan kebencanaan.

“Bupati menginstruksikan BPBD dan Tagana untuk meningkatkan kesiapsiagaan personel maupun peralatan dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem. Kita juga meminta Camat dan Wali Nagari untuk terus memantau kondisi di wilayah masing-masing serta melaporkan setiap perkembangan yang terjadi secara cepat,” ujar Medison.

Daerah Rawan Banjir dan Longsor Diminta Dipantau

Medison mengatakan, pemantauan kondisi wilayah menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem. Terlebih, hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung dalam waktu cukup lama dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi.

Karena itu, camat dan wali nagari diminta memastikan perkembangan kondisi di wilayah masing-masing dapat dipantau secara berkala. Perhatian khusus diberikan terhadap kawasan yang memiliki potensi ataupun riwayat kejadian banjir, longsor, serta bencana lainnya.

Pemantauan tersebut diharapkan dapat mempercepat penyampaian informasi apabila ditemukan kondisi yang berpotensi membahayakan masyarakat.

“Camat dan Wali Nagari agar terus memonitor kondisi di wilayahnya masing-masing. Apabila terdapat kejadian atau kondisi yang berpotensi menimbulkan bencana, segera laporkan sehingga dapat dilakukan langkah penanganan dan antisipasi sedini mungkin,” katanya.

Selain meminta aparatur di tingkat kecamatan dan nagari melakukan pemantauan, Pemkab Dharmasraya juga mengingatkan masyarakat agar mengenali kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Warga yang berada di kawasan rawan bencana diminta memperhatikan tanda-tanda perubahan kondisi lingkungan.

“Kenali kondisi lingkungan sekitar dan daerah yang rawan bencana. Apabila terjadi peningkatan debit atau tinggi muka air sungai, maupun muncul tanda-tanda longsor, segera mengambil langkah pengamanan dan mencari tempat yang aman serta mengikuti arahan petugas,” ujar Medison.

Sejumlah Gangguan Atmosfer Aktif di Sumatera Barat

Peringatan dini cuaca tersebut dikeluarkan Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer. Dalam analisis tersebut, BMKG mendeteksi sejumlah pola gangguan cuaca yang sedang aktif di wilayah Sumatera Barat (Sumbar).

Beberapa fenomena yang teridentifikasi meliputi Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuatorial. Selain itu, terdapat pula daerah pertemuan arus atau konvergensi serta belokan angin atau shearline.

Keberadaan sejumlah pola gangguan atmosfer tersebut menjadi dasar keluarnya peringatan dini bagi sejumlah wilayah di Sumbar, termasuk Dharmasraya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Indra Kurniawan

Tags

Rekomendasi

Terkini

X