Banjir Padang Jadi Peringatan, Ini Pentingnya Evaluasi Daerah Aliran Sungai

Photo Author
Redaksi, HaiPadang.com
- Senin, 12 Oktober 2026 | 11:33 WIB
Banjir di Kota Padang pada Sabtu (10/10/2026) merendam pemukiman elit Lumin Park, di kawasan Lubuk Minturun. (Foto: Tangkap Layar Video Instagram sitinjau_lauik)
Banjir di Kota Padang pada Sabtu (10/10/2026) merendam pemukiman elit Lumin Park, di kawasan Lubuk Minturun. (Foto: Tangkap Layar Video Instagram sitinjau_lauik)

Haipadang.com – Banjir yang melanda Kota Padang, pada Sabtu (10/10/2026) menjadi pengingat pentingnya mengevaluasi infrastruktur pengendali banjir dan kondisi daerah aliran sungai (DAS). Mantan Direktur Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono, menilai kerusakan infrastruktur dapat memperbesar dampak bencana ketika hujan lebat menyebabkan debit sungai meningkat dalam waktu singkat.

Menurut Daryono, upaya mengurangi risiko banjir tidak cukup hanya dengan membangun atau memperbaiki tanggul. Perlindungan masyarakat perlu dilakukan melalui pendekatan menyeluruh yang mencakup pengelolaan kawasan hulu, penataan ruang, penguatan infrastruktur sungai, sistem peringatan dini, hingga kesiapsiagaan warga.

Dalam analisisnya, ia menyoroti konsep risk amplification atau penguatan dampak risiko. Istilah tersebut merujuk pada kondisi ketika faktor tertentu, termasuk kerusakan infrastruktur pengendali banjir, berpotensi memperbesar dampak bencana yang terjadi.

"Saya sampaikan bahwa dalam perspektif manajemen risiko bencana, kejadian Banjir Padang mengingatkan bahwa kerusakan infrastruktur pengendali banjir dapat menjadi faktor penguat dampak (risk amplification)," tulis Daryono dalam unggahan Instagram yang dikutip Senin (12/10/2026).

Ia menjelaskan, banjir Padang pada 10 Oktober 2026 memperlihatkan potensi dampak serius ketika hujan lebat meningkatkan debit sungai dalam waktu singkat. Risiko dapat semakin besar apabila kapasitas alur sungai tidak memadai dan infrastruktur pengendali banjir tidak memiliki ketahanan yang cukup untuk menghadapi kondisi tersebut.

Karena itu, kejadian banjir tersebut perlu menjadi bahan evaluasi terhadap kesiapan infrastruktur dan pengelolaan kawasan rawan bencana. Penanganan tidak hanya diarahkan pada kerusakan yang terlihat setelah banjir, tetapi juga pada faktor-faktor yang dapat memperbesar dampaknya.

Kerusakan di Kuranji Jadi Perhatian

Kerusakan tanggul, jalan, dan rumah di wilayah Kuranji menjadi salah satu persoalan yang perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan menyeluruh. Daryono menilai evaluasi perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi daerah aliran sungai, kapasitas sungai, serta tingkat kerentanan kawasan permukiman di sekitarnya.

Pemeriksaan terhadap DAS menjadi bagian penting karena kondisi kawasan tersebut berkaitan dengan pengelolaan aliran air dari hulu menuju hilir. Sementara itu, kapasitas sungai dan ketahanan infrastruktur pengendali banjir perlu diperhatikan untuk memahami sejauh mana kawasan dapat menghadapi peningkatan debit air ketika hujan lebat terjadi.

Selain infrastruktur, kondisi permukiman juga perlu masuk dalam evaluasi. Tingkat kerentanan kawasan tempat tinggal masyarakat menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan dalam upaya mengurangi risiko bencana.

Evaluasi menyeluruh diharapkan dapat membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang memperbesar risiko banjir. Hasilnya dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah penanganan dan pengurangan risiko yang sesuai dengan kondisi wilayah terdampak.

Kerusakan yang terjadi di Kuranji dengan demikian tidak hanya menjadi persoalan pemulihan infrastruktur setelah bencana. Kondisi tersebut juga perlu menjadi perhatian dalam meninjau kembali ketahanan kawasan dan kesiapan sistem pengendalian banjir di Kota Padang.

Mitigasi Banjir Perlu Dimulai dari Hulu

Daryono menekankan bahwa upaya mitigasi banjir seharusnya tidak baru dilakukan ketika air telah meluap dan memasuki permukiman. Pengurangan risiko perlu direncanakan sejak awal melalui pendekatan terpadu yang mencakup kawasan hulu hingga wilayah hilir daerah aliran sungai.

Pengelolaan kawasan hulu menjadi salah satu bagian yang perlu diperhatikan dalam rangkaian mitigasi tersebut. Selain itu, penguatan infrastruktur sungai dan penataan permukiman juga diperlukan untuk mengurangi kerentanan masyarakat terhadap potensi banjir.

Pendekatan dari hulu hingga hilir membuat penanganan banjir tidak hanya berorientasi pada respons ketika bencana berlangsung. Upaya tersebut juga diarahkan untuk mengurangi faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko sebelum banjir terjadi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Indra Kurniawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X