berita

Karhutla Meluas, Kabut Asap Bisa Mengancam Pertanian Meski Lahan Tak Terbakar

Jumat, 16 Oktober 2026 | 19:05 WIB
Kondisi Kota Padang yang diselimuti kabut asap pada Rabu (14/10/2026) membuat pemerintah kota mengalihkan pembelajaran di sekolah menjadi jarak jauh atau daring (Foto: Rafdi Rahmadi/Sumbar Daily)

Data jarak pandang tersebut memperlihatkan kondisi kejernihan atmosfer di sejumlah wilayah yang dapat menjadi perhatian dalam pemantauan kabut asap. Namun, pengamatan pada satu waktu belum cukup untuk menjelaskan berapa lama suatu wilayah mengalami paparan kabut asap.

Untuk mengetahui perubahan kondisi dari waktu ke waktu, analisis deret waktu AOD diperlukan. Melalui pendekatan tersebut, periode ketika nilai aerosol meningkat dapat diidentifikasi dan dibandingkan dengan kondisi pada hari-hari lainnya.

Data titik panas VIIRS serta informasi arah angin juga dapat digunakan untuk menilai kemungkinan hubungan antara peningkatan aerosol dan kebakaran. Titik panas membantu memberikan petunjuk mengenai lokasi yang terindikasi mengalami kebakaran, sedangkan arah angin dapat membantu memahami kemungkinan pergerakan aerosol dari satu wilayah ke wilayah lain.

Meski demikian, hubungan antara titik panas dan peningkatan AOD perlu ditafsirkan secara hati-hati. Tidak seluruh aerosol di atmosfer berasal dari kebakaran hutan dan lahan. Emisi kendaraan, kegiatan industri, pembakaran biomassa lainnya, serta sumber alami juga berkontribusi terhadap keberadaan aerosol.

“Perlu diperhatikan bahwa aerosol tidak seluruhnya berasal dari karhutla. Emisi kendaraan, industri, pembakaran biomassa lainnya, dan sumber alami juga berkontribusi terhadap aerosol atmosfer,” kata Dian.

Dengan mempertimbangkan beragam sumber tersebut, identifikasi aerosol memerlukan lebih dari satu jenis data. Informasi AOD dapat menunjukkan pengaruh optik aerosol, sedangkan titik panas dan arah angin membantu menilai kemungkinan sumber serta pola pergerakannya. Data lain tetap dibutuhkan untuk memahami kondisi atmosfer dan menentukan keterkaitannya dengan kejadian kebakaran.

Mengidentifikasi Kawasan Pertanian yang Berisiko Terpapar

Pemetaan AOD dapat dipadukan dengan peta penggunaan lahan untuk mengenali kawasan pertanian yang berpotensi mengalami paparan aerosol tinggi. Pendekatan ini memungkinkan pemantauan tidak hanya terpusat pada lahan yang terbakar, tetapi juga menjangkau area pertanian yang berada di jalur sebaran kabut asap.

Pada kawasan tanaman pangan, pengamatan dapat diarahkan ke persawahan dan sentra produksi jagung. Untuk sektor hortikultura, kawasan produksi cabai, tomat, dan sayuran dapat menjadi bagian dari wilayah yang dipantau. Adapun pada sektor perkebunan, perhatian dapat mencakup lahan kelapa sawit, karet, kopi, dan kakao.

Penggabungan peta aerosol dan penggunaan lahan dapat membantu mengidentifikasi area yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Meski begitu, tingkat paparan aerosol yang terdeteksi pada suatu kawasan tidak serta-merta menunjukkan besarnya dampak terhadap tanaman yang tumbuh di sana.

Setiap jenis tanaman memiliki respons yang berbeda terhadap perubahan kondisi lingkungan. Fase pertumbuhan juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam menilai risiko paparan kabut asap.

“Namun, respons tanaman berbeda menurut jenis dan fase pertumbuhannya. Gangguan pada tanaman hortikultura berumur pendek dapat terlihat lebih cepat, sedangkan pada tanaman perkebunan tahunan dampaknya mungkin baru muncul kemudian,” jelas Dian.

Paparan kabut asap yang berlangsung lama berpotensi mengurangi cahaya yang diterima tanaman. Jika pengurangan radiasi mengganggu proses fotosintesis, pertumbuhan tanaman, pembungaan, pembentukan buah, hingga mutu hasil panen dapat terdampak.

Durasi paparan menjadi salah satu faktor penting dalam memperkirakan risiko tersebut. Kabut asap yang hanya muncul dalam waktu singkat tidak selalu menimbulkan dampak yang sama dengan paparan yang berulang atau berlangsung selama berminggu-minggu.

Namun, tidak ada batas durasi universal yang dapat digunakan untuk menyatakan bahwa semua jenis tanaman mampu menoleransi kabut asap selama periode tertentu. Respons tanaman bergantung pada kepekatan aerosol, besarnya pengurangan radiasi matahari, jenis tanaman, kondisi lingkungan, serta fase pertumbuhannya.

Penelitian terhadap beberapa varietas padi di Malaysia menunjukkan bahwa paparan kabut asap tingkat sedang selama sekitar lima minggu, pada fase vegetatif akhir hingga awal pembungaan, berkaitan dengan penurunan laju fotosintesis bersih sebesar 12,9–53,2 persen dalam pengamatan harian. Penelitian tersebut juga mencatat hasil panen 10–19 persen lebih rendah dibandingkan dengan potensi hasil.

Halaman:

Tags

Terkini