Karhutla Meluas, Kabut Asap Bisa Mengancam Pertanian Meski Lahan Tak Terbakar

Photo Author
Redaksi, HaiPadang.com
- Jumat, 16 Oktober 2026 | 19:05 WIB
Kondisi Kota Padang  yang diselimuti kabut asap pada Rabu (14/10/2026) membuat pemerintah kota mengalihkan pembelajaran di sekolah menjadi jarak jauh atau daring (Foto: Rafdi Rahmadi/Sumbar Daily)
Kondisi Kota Padang yang diselimuti kabut asap pada Rabu (14/10/2026) membuat pemerintah kota mengalihkan pembelajaran di sekolah menjadi jarak jauh atau daring (Foto: Rafdi Rahmadi/Sumbar Daily)

Perbedaan tersebut penting ketika data satelit digunakan untuk mengevaluasi paparan kabut asap. Satu parameter tidak dapat menggantikan seluruh informasi yang dibutuhkan untuk memahami kondisi atmosfer dan dampaknya terhadap pertanian.

“Dengan demikian, AOD dapat digunakan untuk memetakan beban aerosol, tetapi tidak langsung menunjukkan besarnya penurunan fotosintesis atau kehilangan hasil panen,” ujar Dian.

Artinya, peta AOD dapat membantu menunjukkan lokasi yang berpotensi mengalami paparan aerosol tinggi. Namun, untuk mengetahui apakah tanaman benar-benar mengalami gangguan fotosintesis atau penurunan hasil, diperlukan pengukuran tambahan yang secara langsung berkaitan dengan kondisi tanaman dan lingkungan pertumbuhannya.

Memanfaatkan Data AOD MODIS untuk Memantau Karhutla

Salah satu sumber informasi yang dapat digunakan dalam pemantauan aerosol adalah sensor Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS), yang terdapat pada satelit Terra dan Aqua. Sensor ini menyediakan data yang dapat dimanfaatkan untuk mempelajari kondisi atmosfer di berbagai wilayah.

Salah satu produk MODIS yang digunakan untuk pengamatan aerosol adalah MAIAC dengan kode MCD19A2. Produk tersebut menyediakan estimasi AOD dengan resolusi spasial sekitar satu kilometer.

MAIAC merupakan singkatan dari Multi-Angle Implementation of Atmospheric Correction. Metode ini digunakan dalam pengolahan citra untuk memperkirakan aerosol sekaligus melakukan koreksi atmosfer. Produk MCD19A2 menyediakan informasi AOD pada panjang gelombang sekitar 470 dan 550 nanometer.

Data tersebut dapat diakses melalui NASA Earthdata dan diolah menggunakan Google Earth Engine. Dengan memanfaatkan sumber data ini, pemantauan dapat diarahkan untuk melihat perubahan nilai AOD dari waktu ke waktu sekaligus memetakan distribusi aerosol secara spasial.

Untuk periode Juli hingga Oktober 2026, analisis dapat difokuskan pada Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Wilayah-wilayah tersebut dapat dikaji melalui perubahan AOD harian, perhitungan rata-rata bulanan, serta pemetaan sebaran aerosol.

Pengamatan harian diperlukan untuk melihat perubahan kondisi atmosfer dari satu waktu ke waktu berikutnya. Sementara itu, rata-rata bulanan dapat membantu memperlihatkan kecenderungan paparan aerosol selama periode pengamatan. Peta distribusi spasial kemudian dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana sebaran aerosol berubah di antara wilayah yang dianalisis.

Namun, ketersediaan dan kualitas data menjadi perhatian penting. Tutupan awan dapat menghambat pengamatan aerosol melalui satelit, terutama di wilayah tropis yang kerap mengalami kondisi berawan. Akibatnya, estimasi AOD mungkin tidak tersedia untuk sebagian piksel pada waktu tertentu.

“Namun, kualitas piksel dan tutupan awan harus diperhatikan. Pada wilayah tropis, awan sering menyebabkan tidak tersedianya estimasi AOD. Ketiadaan data bukan berarti atmosfer bebas aerosol,” tambah Dian.

Keterbatasan itu berarti area yang tidak memiliki estimasi AOD tidak boleh langsung ditafsirkan sebagai wilayah tanpa aerosol. Data yang kosong dapat berkaitan dengan kendala pengamatan, termasuk tutupan awan, sehingga perlu dipertimbangkan ketika hasil pemetaan dianalisis.

Dalam pemantauan karhutla, pembacaan data satelit dengan memperhatikan kualitas piksel menjadi bagian penting untuk menghindari interpretasi yang keliru. Hasil analisis juga perlu dilihat bersama informasi titik panas, arah angin, serta pengamatan atmosfer lainnya.

Karhutla di Sumatra dan Kalimantan pada 2026

Kebakaran hutan dan lahan telah terjadi di sejumlah wilayah Indonesia sejak awal 2026. Data Kementerian Kehutanan mencatat luas areal yang terbakar secara nasional mencapai sekitar 202 ribu hektare selama Januari hingga Juli 2026.

Selain luas lahan yang terbakar, kondisi atmosfer di sejumlah wilayah juga menunjukkan gangguan jarak pandang. Pada 29 Agustus, pengamatan BMKG yang dilaporkan Kementerian Kehutanan mencatat jarak pandang di Jambi dan Pontianak sekitar 800 meter. Sementara itu, jarak pandang di Pekanbaru tercatat sekitar 2.500 meter.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Indra Kurniawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X