berita

Karhutla Meluas, Kabut Asap Bisa Mengancam Pertanian Meski Lahan Tak Terbakar

Jumat, 16 Oktober 2026 | 19:05 WIB
Kondisi Kota Padang yang diselimuti kabut asap pada Rabu (14/10/2026) membuat pemerintah kota mengalihkan pembelajaran di sekolah menjadi jarak jauh atau daring (Foto: Rafdi Rahmadi/Sumbar Daily)

Temuan itu memperlihatkan pentingnya mempertimbangkan durasi paparan, bukan hanya kepekatan aerosol. Pemantauan yang hanya menggambarkan kondisi atmosfer pada satu waktu berisiko tidak menangkap keseluruhan paparan yang dialami tanaman selama fase pertumbuhan tertentu.

Walaupun demikian, peta aerosol tidak dapat langsung membuktikan terjadinya penurunan produksi pertanian. Untuk memastikan pengaruh kabut asap, diperlukan pengukuran radiasi aktif fotosintesis, pengamatan kondisi fisiologis tanaman, serta data mengenai pertumbuhan dan hasil panen.

Berapa Lama Tanaman Dapat Terpapar Kabut Asap?

Durasi paparan kabut asap merupakan salah satu unsur yang perlu diperhitungkan ketika menilai potensi gangguan terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Paparan selama beberapa jam dapat mengubah laju fotosintesis karena berkurangnya radiasi matahari yang mencapai tanaman. Akan tetapi, perubahan tersebut belum tentu langsung memengaruhi hasil panen.

Pada paparan selama satu hingga tiga hari, tingkat kepekatan asap dan fase pertumbuhan tanaman menjadi pertimbangan penting. Risiko yang dihadapi tanaman dapat berbeda sesuai kondisi paparan dan tahap perkembangan ketika kabut asap terjadi.

Sementara itu, paparan berulang selama empat hingga tujuh hari memerlukan pemantauan yang lebih intensif. Perhatian khusus diperlukan ketika paparan terjadi pada fase pembungaan dan pembentukan buah, karena gangguan pada periode tersebut dapat berkaitan dengan proses perkembangan tanaman.

Jika kabut asap berlangsung selama satu hingga tiga minggu, potensi gangguan kumulatif semakin perlu diwaspadai, terutama apabila radiasi matahari terus berkurang. Dalam situasi seperti itu, pengamatan berulang dapat membantu melihat apakah perubahan kondisi atmosfer berlangsung secara konsisten atau hanya terjadi pada waktu tertentu.

Paparan yang berlangsung lebih dari tiga minggu memerlukan evaluasi terhadap kemungkinan penurunan produktivitas. Namun, rentang waktu tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai ambang batas yang berlaku untuk semua tanaman. Perbedaan jenis tanaman, kepekatan aerosol, kondisi lingkungan, dan fase pertumbuhan dapat menghasilkan respons yang berlainan.

“Paparan lebih dari tiga minggu memerlukan evaluasi terhadap kemungkinan penurunan produktivitas. Namun, rentang waktu tersebut bukan batas toleransi baku karena respons tanaman bergantung pada kepekatan aerosol, jenis tanaman, kondisi lingkungan, dan fase pertumbuhannya,” katanya.

Dengan demikian, rentang waktu paparan dapat menjadi panduan awal untuk menentukan intensitas pemantauan, tetapi bukan satu-satunya dasar untuk menetapkan tingkat kerusakan tanaman. Pengamatan kondisi atmosfer perlu dipadukan dengan pengukuran yang dapat menunjukkan bagaimana tanaman merespons perubahan lingkungan.

Pada akhirnya, penilaian risiko pertanian membutuhkan informasi yang dapat menjelaskan hubungan antara paparan aerosol, jumlah radiasi yang diterima tanaman, kondisi fisiologis, serta perkembangan dan hasil panen. Tanpa data tersebut, peningkatan AOD hanya dapat digunakan sebagai petunjuk adanya perubahan beban aerosol di atmosfer, bukan sebagai bukti langsung kerugian produksi.

Mengintegrasikan Pemantauan Aerosol dan Perlindungan Pertanian

Pemantauan aerosol melalui satelit dapat memperluas cakupan pengamatan dampak karhutla. Perhatian tidak lagi terbatas pada lokasi yang mengalami kebakaran, sebab asap dapat terbawa angin dan mencapai kawasan pertanian yang tidak terbakar secara langsung.

Penginderaan jauh memungkinkan pengamatan dilakukan pada wilayah yang luas dan diulang dari waktu ke waktu. Data satelit dapat membantu mengidentifikasi perubahan beban aerosol, sementara informasi penggunaan lahan menunjukkan keberadaan kawasan pertanian yang berpotensi terpapar.

Meski demikian, pengamatan dari satelit tetap memiliki keterbatasan. Citra dapat menghadapi kendala akibat tutupan awan, sedangkan nilai AOD tidak secara langsung menjelaskan konsentrasi PM2,5 di permukaan atau besarnya penurunan fotosintesis. Karena itu, hasil pemantauan perlu dipadukan dengan pengukuran lapangan agar dampak terhadap tanaman dapat dinilai secara lebih tepat.

Data titik panas, informasi aerosol, radiasi matahari, dan penggunaan lahan juga perlu dibaca secara terpadu. Titik panas memberikan petunjuk mengenai kemungkinan lokasi kebakaran, AOD menggambarkan pengaruh optik aerosol, sedangkan data radiasi dan kondisi tanaman dibutuhkan untuk mengevaluasi dampaknya terhadap pertumbuhan.

Prof. Dian Fiantis menilai pemerintah dan perguruan tinggi perlu mengintegrasikan berbagai sumber informasi tersebut untuk mengenali kawasan pertanian yang berisiko.

Halaman:

Tags

Terkini