Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, satu hal menjadi semakin jelas, yakni mycovirus telah mengubah paradigma tentang virus.
“Virus tidak selalu identik dengan penyakit. Dalam konteks tertentu, virus justru dapat menjadi mitra yang membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan, mulai dari pengendalian penyakit, peningkatan produksi pangan, pengembangan bioteknologi hingga eksplorasi terapi kesehatan di masa depan,” kata Fadli.
Sejarah ilmu pengetahuan berulang kali menunjukkan bahwa banyak penemuan besar berawal dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak penting. Mycovirus menjadi salah satu contohnya.
Organisme yang selama puluhan tahun tersembunyi di dalam sel jamur kini muncul sebagai sumber inspirasi bagi inovasi lintas disiplin.
Bukan tidak mungkin, di masa depan, solusi atas sebagian tantangan kesehatan, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan justru datang dari virus-virus kecil yang selama ini luput dari perhatian.
“Bagi Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati tropis sangat tinggi, termasuk keragaman jamur yang sebagian besar belum terkarakterisasi, penelitian mycovirus membuka peluang baru. Tidak hanya untuk pengendalian penyakit tanaman secara berkelanjutan, tetapi juga untuk eksplorasi sumber daya hayati yang dapat dimanfaatkan dalam kesehatan, pangan, dan bioteknologi,” ujarnya. (*)