Batas Tipis Peduli dan Kritik Toksik, Ini Penjelasan Guru Besar Unand

Photo Author
Redaksi, HaiPadang.com
- Jumat, 9 Oktober 2026 | 07:50 WIB
Ilustrasi Kritik (Foto: Magnific)
Ilustrasi Kritik (Foto: Magnific)

Haipadang.com – Kritik tidak selalu menjadi tanda kebencian atau sikap negatif. Kritik yang disampaikan secara objektif dapat menjadi bentuk kepedulian untuk memperbaiki keadaan. Namun, ketika kritik berubah menjadi serangan pribadi, disampaikan secara sinis, dan tidak disertai solusi, perilaku tersebut dapat bergeser menjadi kritik toksik.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand), Prof. Hardisman, menjelaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada tindakan mengkritik, melainkan pada alasan, sasaran, cara penyampaian, serta tindakan setelah kritik disampaikan.

“Persoalannya bukan apakah seseorang mengkritik, melainkan mengapa ia mengkritik, apa yang ia kritik, bagaimana ia menyampaikannya, dan apa yang dilakukannya setelah kritik itu disampaikan,” demikian penjelasan Hardisman mengenai batas antara kritik konstruktif dan kritik toksik dari perspektif neuropsikologi, dilansir dari Kepakaran Unand, Jumat (9/10/2026).

Menurutnya, institusi yang ingin berkembang membutuhkan orang-orang yang berani menunjukkan kelemahan. Hubungan yang dewasa juga membutuhkan keberanian untuk menyampaikan bahwa sesuatu tidak benar. Begitu pula dalam perkembangan pribadi, seseorang perlu memiliki kemampuan menerima dan memberikan koreksi.

Karena itu, kritik tidak semestinya langsung dianggap sebagai perilaku negatif. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah kritik tersebut bertujuan memperbaiki keadaan atau justru digunakan untuk menunjukkan eksistensi diri dan menjatuhkan orang lain.

Kritik Objektif Merupakan Bentuk Kepedulian

Hardisman menjelaskan, kritik yang sehat memiliki objek yang jelas, seperti keputusan, kebijakan, perilaku, data, proses, atau hasil. Kritik tersebut tetap membuka ruang untuk perdebatan dan koreksi, termasuk kemungkinan bahwa pendapat yang disampaikan ternyata keliru.

Orang yang memberikan kritik objektif tidak merasa harga dirinya runtuh ketika pendapatnya ditolak. Ia bersedia memeriksa kembali argumentasi dan data yang digunakan serta mengakui kemungkinan adanya kekeliruan.

Sikap tersebut menunjukkan kerendahan hati, yakni kesediaan menerima bahwa seseorang tidak mengetahui seluruh kebenaran.

Dalam hubungan sosial, kritik yang objektif juga dapat menjadi bentuk perhatian. Seseorang yang meluangkan waktu untuk memahami persoalan, mengumpulkan fakta, dan menyampaikan keberatan berdasarkan argumentasi rasional menunjukkan adanya kepedulian terhadap masalah yang dihadapi.

Hardisman menegaskan bahwa kepedulian tidak selalu disampaikan melalui pujian atau dukungan yang menyenangkan.

“Kepedulian tidak selalu berbentuk pujian, kadang kepedulian berbentuk kalimat yang tidak nyaman didengar,” jelas Hardisman.

Pemikiran filsuf Jürgen Habermas turut memberikan perspektif mengenai komunikasi yang sehat. Komunikasi semestinya tidak diarahkan untuk memenangkan pertarungan, tetapi untuk mencapai pemahaman bersama. Kritik rasional menjadi sarana untuk memeriksa kembali tindakan, bukan senjata untuk mendominasi pihak lain.

Sebagai contoh, dosen yang menunjukkan kelemahan metodologi penelitian mahasiswa tidak berarti merendahkan mahasiswa apabila kritik tersebut disertai alasan dan jalan perbaikan. Begitu pula seseorang yang mengungkapkan kelemahan kebijakan organisasi tidak otomatis menjadi pengganggu organisasi.

Sahabat yang mengatakan bahwa sebuah keputusan mungkin keliru juga tidak serta-merta berarti tidak mendukung. Kritik dapat menjadi bentuk perhatian ketika disampaikan dengan tujuan membantu seseorang melihat kekeliruan dan memperbaikinya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Indra Kurniawan

Tags

Rekomendasi

Terkini

X