ragam

AI Makin Canggih, Dosen Unand Pertanyakan: Sebenarnya Mahasiswa Bayar untuk Apa?

Rabu, 7 Oktober 2026 | 11:21 WIB
Ilustrasi AI (Foto: Pexels)

Haipadang.com — "Kuliah sekarang lucu banget. Bayar puluhan juta buat lihat dosen bikin materi pakai AI, mahasiswa bikin tugas pakai AI, tanya jawab dibantu AI, belajar pun akhirnya ke AI. Jadi, yang dibayar mahal itu apa?"

Pertanyaan tersebut disampaikan Dr. Derisma, Dosen Departemen Informatika Fakultas Teknologi Informasi Universitas Andalas (Unand) untuk menggambarkan kegelisahan yang muncul seiring semakin masifnya penggunaan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) di perguruan tinggi.

Menurutnya, perkembangan AI generatif telah masuk hampir ke seluruh tahapan pembelajaran. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mencari informasi, membuat materi, menyusun tugas, menjawab pertanyaan, hingga membantu penelitian.

Kondisi itu membuat perguruan tinggi perlu kembali melihat nilai utama pendidikan. Sebab, ketika AI semakin mampu mengambil alih pekerjaan akademik, pendidikan tinggi tidak cukup hanya memberikan informasi atau jawaban kepada mahasiswa.

Derisma menilai AI sebenarnya tidak harus ditempatkan sebagai ancaman. Teknologi tersebut justru menawarkan peluang besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, maupun layanan perguruan tinggi.

Di lingkungan pembelajaran, misalnya, mahasiswa dapat memanfaatkan AI untuk mengeksplorasi ide, memahami konsep, melakukan simulasi, menulis kode, serta memperoleh umpan balik awal. Sementara itu, dosen dapat menggunakan AI untuk membantu menyiapkan materi, mengembangkan metode pembelajaran, membuat variasi asesmen, dan menganalisis data.

AI juga memiliki potensi besar dalam kegiatan penelitian. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai mitra untuk pengolahan data, analisis citra, pemodelan, eksplorasi literatur, hingga pengembangan berbagai inovasi baru.

Namun, persoalan muncul ketika teknologi yang semestinya menjadi alat bantu belajar justru mengambil alih proses berpikir manusia.

Jika mahasiswa hanya memberikan perintah kepada AI, menerima hasil yang diberikan, kemudian menyerahkannya sebagai tugas, proses pendidikan dinilai berisiko kehilangan substansi utamanya. Pendidikan tinggi bukan hanya tentang menemukan jawaban, melainkan membentuk kemampuan untuk bertanya, menganalisis, menguji, mengambil keputusan, memecahkan persoalan, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan.

Responsible AI Jadi Kunci

Dalam kondisi tersebut, konsep Responsible AI menjadi semakin penting. Menurut Derisma, Responsible AI tidak sebatas menggunakan AI secara etis. Konsep tersebut juga mencakup pemanfaatan dan pengembangan AI dengan memperhatikan aspek kemanusiaan, transparansi, keadilan, akuntabilitas, keamanan, privasi, integritas, serta kesiapan pengguna.

Dalam konteks perguruan tinggi, pendekatan itu sejalan dengan Keputusan Bersama Tujuh Menteri Tahun 2026 yang menempatkan pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial dalam kerangka human-centered.

AI ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat kapasitas intelektual manusia, bukan menggantikannya. Dengan prinsip tersebut, keputusan akhir dan tanggung jawab tetap berada di tangan manusia.

Prinsip itu, menurut Derisma, perlu menjadi dasar dalam menyikapi penggunaan AI di lingkungan kampus.

Mahasiswa dapat menggunakan AI sebagai learning assistant, tetapi proses berpikir dan verifikasi tetap menjadi tanggung jawab mahasiswa. Dosen juga dapat menjadikan AI sebagai teaching assistant, tetapi perannya dalam memberikan konteks, membimbing proses pembelajaran, membentuk karakter, serta menjaga integritas akademik tidak dapat digantikan mesin.

Halaman:

Tags

Terkini