ragam

Kisah Unik Nama Ombak Macaronis Mentawai, Kini Jadi Fokus Riset Wisata Berkelanjutan

Kamis, 15 Oktober 2026 | 17:30 WIB
Kepulauan Mentawai (Foto: Kemenko PMK)

Haipadang.com – Popularitas ombak Macaronis di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar), sebagai destinasi selancar bertaraf internasional mendorong perlunya pengelolaan wisata bahari berbasis penelitian. Universitas Bung Hatta (UBH) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), IPB University, dan dunia usaha menginisiasi riset kolaboratif untuk mengkaji daya dukung lingkungan serta daya tampung kawasan wisata selancar di wilayah tersebut.

Penelitian ini menjadi upaya untuk memastikan pemanfaatan potensi ombak Mentawai tetap memperhatikan kelestarian ekosistem pesisir dan laut. Kajian tersebut juga diarahkan untuk menyediakan landasan ilmiah bagi pengelolaan kunjungan peselancar, sekaligus mempertimbangkan aspek keselamatan, kenyamanan wisatawan, dan peluang peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

Lokasi kajian berada di Pulau Siniai, kawasan Kepulauan Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Kawasan ini menjadi bagian dari destinasi yang memiliki daya tarik bagi komunitas selancar internasional karena karakter ombaknya yang menantang.

Kolaborasi tersebut mempertemukan tenaga akademik, peneliti, mahasiswa, dan pelaku usaha. Dari UBH, riset melibatkan dosen Program Studi S2 Pengelolaan Sumberdaya Perairan, Pesisir, dan Kelautan (SP2K), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Dr. Harfiandri Damanhuri.

Sementara itu, BRIN diwakili Prof. Taslim Arifin, Dr. (Cand.) Yulius, dan Dr Aprizon Putra. IPB University turut berpartisipasi melalui mahasiswanya, Upi Khotijah. Adapun unsur dunia usaha diwakili Sandy dan Dedi Sababalat dari PT Internusa Bahagia.

Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat menggabungkan keahlian akademik, kemampuan penelitian, serta pengalaman pelaku usaha dalam merumuskan pendekatan pengelolaan wisata bahari yang berkelanjutan.

Mengukur Kapasitas Wisata Selancar Mentawai

Salah satu perhatian utama dalam penelitian ini adalah kemampuan kawasan pesisir dan laut untuk menampung aktivitas wisata tanpa menimbulkan tekanan berlebihan terhadap lingkungan. Hal ini penting karena peningkatan popularitas destinasi dapat diikuti bertambahnya jumlah pengunjung dan intensitas pemanfaatan kawasan.

Pengembangan wisata selancar di pulau-pulau kecil membutuhkan perhitungan yang mempertimbangkan kondisi alam dan kapasitas lingkungan. Tanpa pengaturan yang tepat, aktivitas wisata berpotensi memengaruhi keseimbangan ekosistem pesisir dan laut.

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan. Pengelolaan kunjungan yang kurang terencana juga dapat memengaruhi kenyamanan serta keselamatan wisatawan. Selain itu, intensitas aktivitas pariwisata perlu memperhatikan interaksi sosial antara pengunjung dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan.

Melalui kajian tersebut, tim peneliti diharapkan dapat menghasilkan data ilmiah mengenai kapasitas kunjungan peselancar, kondisi ekosistem pesisir dan laut, serta berbagai aspek yang berkaitan dengan keselamatan dan kenyamanan wisatawan.

Data tersebut nantinya diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan arah pengelolaan kawasan wisata selancar. Dengan dasar penelitian yang memadai, pemanfaatan potensi bahari dapat disesuaikan dengan karakteristik lingkungan dan kebutuhan masyarakat setempat.

Riset kolaboratif ini juga diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi pengelolaan yang adaptif dan bertanggung jawab. Pendekatan tersebut diperlukan agar aktivitas pariwisata dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan perlindungan lingkungan laut.

Berawal dari Kebiasaan Membawa Pasta Makaroni

Di balik reputasi ombak Macaronis sebagai salah satu daya tarik selancar Mentawai, terdapat cerita mengenai asal-usul nama yang berkembang di kalangan peselancar. Kisah tersebut berawal dari kedatangan tiga peselancar, yakni Chris Goodnow, Scott Wakefield, dan Tony Fitzpatrick, sekitar 1980.

Ketiganya menjelajahi kawasan Teluk Pasongan atau Pasongan Bay, yang dikenal memiliki gulungan ombak besar dan menantang. Mereka kemudian kembali ke kawasan tersebut sekitar 1989–1990 setelah sebelumnya menyimpan lokasi itu sebagai salah satu tempat berselancar yang belum banyak diketahui orang.

Halaman:

Tags

Terkini