Haipadang.com – Polusi udara bukan hanya persoalan gangguan pada saluran pernapasan. Paparan zat pencemar juga dapat memengaruhi pembuluh darah hingga berisiko terhadap kesehatan jantung dan otak. Kondisi ini perlu mendapat perhatian lebih, terutama bagi kelompok rentan seperti penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Menurut Guru Besar bidang Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand), Prof. Hardisman, tubuh memiliki mekanisme pertahanan ketika zat asing masuk melalui saluran pernapasan. Salah satu respons yang dapat muncul pada tahap awal adalah iritasi yang kemudian ditandai dengan batuk.
Namun, apabila seseorang terus-menerus terpapar udara yang tercemar, keluhan tersebut dapat bertahan. Bahkan, gangguan yang muncul tidak selalu langsung menghilang setelah seseorang menjauh dari sumber pencemaran.
Paparan zat berbahaya yang masuk lebih jauh ke saluran pernapasan juga dapat menyebabkan sesak napas. Risiko tersebut menjadi lebih besar bagi orang yang telah memiliki gangguan pernapasan, termasuk penderita asma dan PPOK.
Pada kelompok tersebut, polusi udara dapat memperburuk keluhan yang dialami sekaligus meningkatkan risiko terjadinya serangan yang lebih berat.
Polusi Udara Bisa Berdampak pada Jantung dan Otak
Hardisman menjelaskan, dampak polusi udara tidak terbatas pada organ pernapasan. Zat pencemar juga dapat berkaitan dengan gangguan pada pembuluh darah.
Paparan polutan dapat memicu proses fisiologis dan patofisiologis yang berhubungan dengan kerusakan pembuluh darah serta pembentukan plak. Kondisi tersebut kemudian dapat berisiko terhadap kesehatan jantung dan otak.
Karena itu, risiko akibat polusi udara tidak dapat hanya dilihat dari durasi seseorang berada di lingkungan tercemar. Ada sejumlah faktor yang turut menentukan dampaknya terhadap tubuh.
“Tingkat risiko tidak hanya ditentukan oleh lama paparan. Konsentrasi dan jenis zat pencemar, serta kondisi kesehatan seseorang, turut memengaruhi dampak yang diterima tubuh,” jelas Hardisman dikutip Jumat (2/10/2026).
Ia juga menerangkan bahwa setiap sumber pencemaran dapat menghasilkan komposisi polutan yang berbeda. Asap yang berasal dari aktivitas industri, kebakaran rumah, maupun kebakaran hutan dapat mengandung zat pencemar yang tidak sama.
Perbedaan tersebut dipengaruhi material yang terbakar serta tingkat kesempurnaan proses pembakaran. Salah satu zat yang dapat muncul dari pembakaran tidak sempurna adalah karbon monoksida (CO).
Zat tersebut dapat mengganggu kemampuan hemoglobin dalam membawa oksigen. Jika kemampuan tersebut terganggu, pasokan oksigen ke jaringan tubuh juga dapat terhambat.
Selain itu, paparan dalam jangka panjang terhadap zat hasil pembakaran yang bersifat karsinogen dapat meningkatkan risiko kanker.
Masyarakat Diminta Batasi Aktivitas di Luar Ruangan
Untuk mengurangi risiko kesehatan akibat paparan polusi udara, Hardisman menyarankan masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.