Haipadang.com – Stasiun Padang di Simpang Haru, Kecamatan Padang Timur, mendadak berubah menjadi lokasi penanganan situasi darurat. Sejumlah personel dikerahkan untuk merespons skenario ancaman aksi teror yang dibuat dalam latihan gabungan penanganan gangguan keamanan di moda transportasi kereta api.
Dalam simulasi tersebut, situasi genting digambarkan terjadi di area stasiun. Penumpang yang berada di kawasan terdampak harus segera dievakuasi. Di saat bersamaan, personel dari berbagai unsur menjalankan tugas masing-masing untuk mengamankan lokasi dan mengendalikan keadaan.
Skenario tersebut merupakan bagian dari Simulasi Latihan Gabungan Penanganan Aksi Teror pada Moda Transportasi Kereta Api yang diselenggarakan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divisi Regional II Sumatera Barat (Divre II Sumbar) bersama Polda Sumbar, pada Kamis (1/10/2026).
Latihan yang digelar di Stasiun Padang itu tidak hanya menampilkan simulasi kondisi darurat. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk menguji kesiapan personel, prosedur penanganan, serta koordinasi antarlembaga ketika menghadapi potensi ancaman aksi teror di lingkungan transportasi kereta api.
Ancaman dalam sarana transportasi publik dapat membutuhkan penanganan cepat dan terukur. Karena itu, melalui latihan tersebut setiap unsur diuji untuk menjalankan perannya berdasarkan tugas dan kewenangan masing-masing.
Penumpang Jadi Bagian Penting dalam Skenario
Dalam skenario latihan, proses evakuasi pelanggan menjadi salah satu tahapan penting. Ketika situasi digambarkan berada dalam kondisi darurat, personel harus memastikan penumpang di area terdampak dapat dipindahkan dari lokasi dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan.
Pengamanan kawasan juga dilakukan bersamaan dengan proses evakuasi. Personel dari unsur terkait membangun komunikasi dan koordinasi untuk memastikan setiap tindakan dapat berjalan sesuai prosedur.
Tahapan tersebut menggambarkan kondisi yang dapat terjadi ketika gangguan keamanan muncul di sarana transportasi publik. Respons tidak hanya membutuhkan kecepatan, tetapi juga koordinasi agar tindakan yang dilakukan tidak menimbulkan risiko tambahan bagi pelanggan, petugas, maupun masyarakat di sekitar lokasi.
Latihan tersebut juga menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana operator transportasi bersama aparat keamanan menghadapi ancaman yang dapat muncul sewaktu-waktu.
Sebelum simulasi dilaksanakan, peserta terlebih dahulu memperoleh pemaparan mengenai skenario dan tahapan penanganan aksi terorisme pada moda transportasi kereta api.
Materi tersebut mencakup gambaran kondisi yang akan dihadapi, mekanisme komunikasi dan koordinasi, serta tindakan yang perlu dilakukan oleh setiap unsur berdasarkan tugas dan kewenangannya.
Dengan pemaparan tersebut, setiap personel memiliki gambaran mengenai peran yang harus dijalankan saat skenario darurat berlangsung.
Tidak hanya kemampuan teknis yang diuji. Efektivitas komunikasi antarpersonel dan koordinasi lintas instansi juga menjadi bagian dari latihan.
Hal itu menjadi penting karena penanganan keadaan darurat di transportasi publik melibatkan berbagai unsur. Respons yang diperlukan harus terintegrasi, cepat, dan terukur dengan tetap menempatkan keselamatan pelanggan serta petugas sebagai perhatian utama.