“Ini bukan sekadar membawa sulaman, tetapi ada koneksi sejarah antara Belgia dan sulam-sulam ini. Ke depan, koneksi ini bisa dikembangkan, bahkan menjadi sister city,” kata Itang Yunaz.
Pandangan tersebut membuat keberadaan Sulam Kapalo Samek di KBRI Brussels memiliki makna yang lebih luas. Karya tersebut tidak hanya merepresentasikan keterampilan perajin Padang Pariaman, tetapi juga membawa cerita mengenai hubungan sejarah, perkembangan teknik menyulam, serta potensi kerja sama yang dapat dikembangkan pada masa mendatang.
Itang juga memberikan perhatian terhadap upaya Ketua Dekranasda Padang Pariaman Nita Christanti Azis dalam membangun ekosistem kerajinan yang berbasis masyarakat. Menurutnya, semangat tersebut menjadi salah satu kekuatan penting dalam mendorong keberlanjutan kerajinan tradisional.
Salah satu gagasan yang dinilai menonjol adalah pembangunan kampung mandiri berbasis embroidery. Konsep tersebut dinilai sejalan dengan upaya menjadikan kerajinan tradisional sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat dan perempuan.
“Semangat Ibu Nita membangun kampung mandiri berbasis embroidery ini sangat luar biasa. Ini yang harus terus didorong agar sulaman tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga memiliki masa depan ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Sulam Kapalo Samek sendiri merupakan salah satu kekayaan kriya khas Padang Pariaman. Proses pengerjaannya membutuhkan ketelitian serta keterampilan tinggi dari para perajin. Keberadaannya menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat sekaligus memiliki potensi untuk terus dikembangkan sebagai produk unggulan ekonomi kreatif.
Dengan ditempatkannya karya tersebut di KBRI Brussels, Padang Pariaman mendapatkan ruang tambahan untuk memperkenalkan produk budayanya di tingkat internasional. Keberadaan sulaman di kantor perwakilan Indonesia di Belgia juga dapat menjadi bagian dari jejaring promosi bagi karya perajin daerah.
Bagi Kabupaten Padang Pariaman, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan promosi sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak di tingkat internasional. Sulam Kapalo Samek menjadi salah satu karya yang membawa identitas daerah ke ruang yang lebih luas. (*)