Haipadang.com — Politik kini tidak selalu hadir melalui debat panjang, forum resmi, atau dokumen kebijakan yang tebal. Bagi generasi muda yang sehari-hari menghabiskan waktu di depan layar ponsel, politik dapat muncul dalam bentuk video belasan detik di TikTok, Instagram, maupun platform media sosial lainnya.
Video politisi berjoget mengikuti sound yang sedang viral, konten a day in my life, hingga berbagai gimik yang dikemas dengan bahasa santai menjadi bagian dari cara baru politik menyapa anak muda. Konten tersebut bahkan dapat muncul di For You Page (FYP) tanpa selalu terasa sebagai sebuah kampanye politik.
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Andalas (Unand), Lusi Puspika Sari, menyoroti perubahan tersebut melalui fenomena yang disebutnya sebagai "politik 15 detik". Menurutnya, politik kini dikemas dalam bentuk konten yang singkat, menghibur, dan dekat dengan keseharian generasi muda.
Politik yang sebelumnya identik dengan debat formal, politisi berjas, serta dokumen kebijakan, kini dapat dikemas menjadi gimik kocak, video dengan editan cepat, hingga bahasa santai untuk membangun kesan kedekatan dengan anak muda.
Namun, perubahan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan keinginan politisi untuk tampil lebih membumi. Di balik konten yang terlihat sederhana, terdapat sistem algoritma yang bekerja untuk mempertemukan konten dengan pengguna yang dinilai sesuai.
Lusi mengaitkan fenomena tersebut dengan pemikiran Sosiolog Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism (2019). Zuboff mengingatkan bahwa sistem digital tidak hanya merekam kebiasaan pengguna, tetapi juga dirancang untuk memprediksi dan memodifikasi perilaku demi kepentingan modal dan kekuasaan.
Ketika logika tersebut masuk ke ranah politik, menurut Lusi, muncul persoalan komodifikasi. Anak muda berpotensi tidak lagi diperlakukan semata-mata sebagai warga negara yang kritis, tetapi sebagai target yang emosi dan seleranya dapat diarahkan melalui penargetan algoritmik.
"Anak muda tidak lagi disapa sebagai warga negara yang kritis, melainkan diperlakukan sebagai target konsumen yang emosi dan seleranya bisa diarahkan lewat penargetan algoritmik yang presisi," ujarnya dilansir dari Kepakaran Unand, Kamis (1/10/2026).
Gen Z dan Gen Alpha Hidup dalam Ekosistem Digital
Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena Gen Z dan Gen Alpha merupakan generasi yang tumbuh sebagai digital natives. Sebagian besar pemahaman mereka mengenai dunia terbentuk melalui interaksi dengan layar ponsel dan berbagai platform digital.
Lusi juga mengaitkan kondisi ini dengan pemikiran filsuf Byung-Chul Han dalam Psychopolitics (2017). Han menyebut kekuasaan pada era sekarang tidak lagi selalu bekerja melalui represi atau intimidasi fisik.
Kekuasaan modern justru dapat menyusup ke alam bawah sadar melalui kesenangan dan konten yang memberikan rasa nyaman sekaligus hiburan.
Dalam konteks politik, kondisi tersebut terlihat ketika pesan politik dikemas sebagai politainment, yakni politik yang dibungkus dengan hiburan. Ketika batas antara hiburan dan politik semakin tipis, batas antara edukasi politik dengan pembodohan yang dikemas sebagai konten lucu juga menjadi semakin kabur.
Perbedaan konten politik yang muncul pada FYP seseorang dengan FYP orang lain menjadi salah satu gambaran dari mekanisme tersebut. Konten yang dilihat pengguna tidak selalu sama karena platform media sosial memanfaatkan jejak digital untuk menyesuaikan konten yang disajikan.
Jejak tersebut dapat mencakup durasi seseorang menonton video, konten yang dibagikan melalui grup percakapan, hingga sound yang paling sering disimpan.