Saat Politik Dikemas Jadi Hiburan, Gen Z dan Alpha Jadi Sasaran Algoritma

Photo Author
Redaksi, HaiPadang.com
- Kamis, 1 Oktober 2026 | 08:15 WIB
Ilustrasi Media Sosial (Foto: Pexels)
Ilustrasi Media Sosial (Foto: Pexels)

Literasi digital, menurut Lusi, tidak cukup hanya dengan kemampuan membedakan berita palsu atau hoaks dari informasi yang benar. Anak muda juga perlu memahami bagaimana algoritma bekerja dan mengenali kapan sebuah konten sengaja dibuat untuk mengalihkan perhatian dari isu yang lebih berat.

Selain itu, mereka perlu mampu membedakan persona buatan atau simulacrum dengan rekam jejak politik yang sebenarnya.

Kemampuan tersebut menjadi penting karena tampilan digital seorang politisi tidak selalu memberikan gambaran utuh mengenai gagasan, kebijakan, maupun rekam jejaknya.

Media Sosial Boleh Jadi Pintu Masuk Politik

Demokrasi yang sehat bagi generasi mendatang, menurut Lusi, tidak seharusnya terdegradasi menjadi arena adu estetika konten dan permainan algoritma.

Media sosial tetap dapat digunakan sebagai pintu masuk yang menyenangkan bagi generasi muda untuk mengenal politik. Namun, pengalaman tersebut perlu diikuti dengan daya kritis, evaluasi terhadap program kerja, serta keberanian untuk mempertanyakan kekuasaan.

Dengan demikian, konten politik yang muncul di FYP tidak berhenti pada persoalan apakah sebuah video lucu, menarik, estetik, atau menghibur. Pengguna juga perlu melihat gagasan dan rekam jejak di balik persona digital yang ditampilkan.

Lusi mengajak anak muda untuk tetap menikmati konten politik yang menghibur, tetapi tidak berhenti pada hiburan tersebut.

"Lain kali konten politisi yang kocak atau estetik lewat di FYP-mu, nikmati saja hiburannya. Tapi setelah itu, coba tanya ke diri sendiri: di balik gimik lucu ini, gagasan dan rekam jejak apa yang sebenarnya sedang mereka sembunyikan," ujar Lusi. 

Pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dari literasi digital kritis ketika politik semakin sering hadir dalam format singkat. Di tengah algoritma yang bekerja berdasarkan jejak dan preferensi pengguna, kemampuan untuk berhenti sejenak, memeriksa informasi, dan mempertanyakan pesan yang disampaikan menjadi bagian dari cara memahami politik secara lebih kritis. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Indra Kurniawan

Tags

Rekomendasi

Terkini

X