Data tersebut kemudian diolah untuk menghadirkan konten yang disesuaikan secara personal. Sistem itu dapat memetakan hal-hal yang membuat Gen Z dan Gen Alpha tertarik, tertawa, maupun merasa memiliki hubungan emosional dengan sebuah konten.
Politik Dikemas seperti Permainan
Di titik tersebut, gaya politik baru kemudian memainkan konsep gamifikasi. Isu-isu besar seperti kebebasan berpendapat, krisis iklim, dan transparansi anggaran publik dapat dianggap terlalu berat untuk karakter algoritma video pendek.
Akibatnya, isu tersebut berpotensi dipangkas dan dipoles menjadi konten yang lebih ringan. Bahkan, isu substansial dapat tergantikan oleh gimik seperti politisi mengikuti tren tarian, membuat tantangan berhadiah, atau memamerkan avatar tiga dimensi yang dirancang untuk masuk ke dunia gim.
"Politik tidak lagi ditawarkan sebagai gagasan, melainkan sebagai paket hiburan yang gampang dikonsumsi dan gampang dilupakan," katanya.
Menurut Lusi, kondisi tersebut secara teoretis sejalan dengan konsep Ideological State Apparatuses yang dikemukakan Louis Althusser.
Althusser menjelaskan bahwa penguasa tidak selalu membutuhkan kekerasan fisik untuk menanamkan pengaruh. Institusi kebudayaan dan media dapat digunakan untuk menyebarkan ideologi secara halus tanpa selalu disadari oleh khalayaknya.
Di era digital, algoritma dan platform konten pendek kemudian dapat berperan sebagai bentuk baru dari institusi ideologis tersebut. Nilai dan citra politik dapat disisipkan melalui kebiasaan sehari-hari anak muda ketika melakukan scrolling, tanpa harus hadir dalam bentuk doktrinasi di ruang kelas.
Risiko Pendangkalan Fungsi Politik
Perubahan cara politik dikonsumsi tersebut kemudian berdampak pada fungsi politik itu sendiri. Ketika isu sosial dikemas dalam bentuk gimik yang lucu, emosi pengguna dapat terpancing untuk tertawa atau merasa gemas.
Namun, pada saat yang sama, kemampuan untuk mempertanyakan rekam jejak dan kualitas kebijakan dapat tidak menjadi bagian utama dari pengalaman tersebut.
Pengguna akhirnya dapat merasa sedang menikmati hiburan biasa, meskipun konten yang dikonsumsi juga membawa gagasan atau ideologi yang telah dikemas secara komersial.
Fenomena tersebut, menurut Lusi, bukan hanya persoalan tren konten yang membuat pengguna tersenyum ketika melakukan scrolling. Kondisi tersebut juga menjadi tantangan bagi masa depan demokrasi.
Jika Gen Z dan Gen Alpha hanya mengonsumsi politik sebagai hiburan berdurasi mikro, muncul risiko terbentuknya generasi yang cakap menggunakan media sosial tetapi tidak cukup kritis ketika berhadapan dengan persoalan kebijakan publik.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti masyarakat harus bersikap anti terhadap media sosial. Solusinya juga bukan dengan mematikan ponsel atau kembali kepada pola politik lama yang kaku dan membosankan.
Yang dibutuhkan adalah penguatan literasi digital kritis, yakni kemampuan untuk memahami bukan hanya isi sebuah konten, tetapi juga bagaimana konten tersebut bekerja terhadap penggunanya.
"Kita perlu naik level: dari sekadar pengguna yang emosinya gampang dipancing algoritma, menjadi warga digital yang paham cara kerja platform," ungkap Lusi.