ragam

Dari Samoa hingga Minangkabau, Cara Budaya Membentuk Masa Remaja

Kamis, 1 Oktober 2026 | 09:10 WIB
Ilustrasi Remaja (Foto: Pixabay)

Haipadang.com – Masa remaja kerap digambarkan sebagai periode storm and stress, fase ketika gejolak emosi, luapan amarah, dan rasa cemas datang silih berganti. Bagi remaja perempuan, perjalanan menuju kedewasaan di tengah fase tersebut semakin kompleks karena berhadapan dengan ekspektasi digital, standar kecantikan media sosial, hingga tekanan angka-angka akademis.

Namun, gejolak tersebut tidak semestinya hanya dilihat sebagai konsekuensi biologis dari pubertas. Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas (Unand), Dr. Noviy Hasanah, menyoroti bagaimana lingkungan budaya turut membentuk pengalaman remaja dalam melewati masa transisi menuju kedewasaan.

Dalam perspektif antropologi, rumah dan sekolah memiliki peran penting dalam proses tersebut. Keduanya perlu kembali menjadi ruang transisi budaya yang memberikan rasa aman bagi remaja ketika mereka berhadapan dengan berbagai tekanan dari lingkungan sosial dan digital.

Belajar dari Remaja di Samoa

Pembahasan mengenai gejolak masa remaja dapat ditarik dari penelitian antropolog Margaret Mead di Samoa pada 1925. Melalui karyanya, Coming of Age in Samoa (1928), Mead meruntuhkan keyakinan psikologi Barat pada masa itu yang menganggap stres remaja sebagai kepastian biologis yang mutlak.

Di Kepulauan Manu'a, Mead menemukan kondisi berbeda. Gadis-gadis remaja Samoa menjalani masa pubertas dengan tenang dan riang serta jauh dari depresi.

Mead kemudian menyimpulkan bahwa gejolak stres pada remaja sangat bergantung pada bagaimana masyarakat mengelola masa transisi tersebut.

Di Samoa, struktur sosial disebut lebih longgar. Pembagian peran dilakukan secara adil dan tidak terdapat rentetan tuntutan hidup yang saling berbenturan. Anak-anak belasan tahun juga tidak dipaksa untuk terburu-buru memilih identitas yang rumit.

Mereka diberi waktu untuk tumbuh secara natural dan mengikuti ritme komunitas di sekitarnya.

Kondisi tersebut berbeda dengan apa yang dihadapi remaja perempuan saat ini. Mereka berada di tengah lanskap budaya yang kompetitif dan bising, terutama karena kehadiran teknologi digital dan media sosial.

Algoritma Mengubah Proses Enkulturasi

Dalam antropologi, proses enkulturasi merupakan cara seseorang menyerap nilai, norma, dan kebiasaan dari lingkungan sekitarnya.

Noviy melihat proses tersebut tengah mengalami guncangan. Jika dahulu proses belajar mengenai kehidupan berlangsung secara alami melalui percakapan di meja makan dan ruang keluarga, kini gawai dan algoritma media sosial mengambil alih sebagian peran tersebut secara agresif.

Anak-anak remaja berhadapan dengan berbagai nilai yang disajikan secara instan melalui layar. Mulai dari standar kesuksesan yang dipamerkan di media sosial, glorifikasi fisik yang nyaris sempurna, hingga kebiasaan mengukur harga diri berdasarkan jumlah likes dan komentar.

“Anak-anak remaja kini seperti dipaksa menelan nilai-nilai mentah yang serba instan: standar sukses yang dipamerkan di layar, glorifikasi fisik yang nyaris sempurna, hingga kebiasaan mengukur harga diri dari jumlah likes dan komentar,” demikian gambaran yang disampaikan Noviy dilansir dari Kepakaran Unand, Kamis (1/10/2026).

Ketika standar tersebut masuk ke dalam diri remaja dan kemudian berbenturan dengan realitas kehidupan sehari-hari, kondisi itu dapat menyisakan rasa rendah diri, depresi, dan kebingungan dalam mencari jati diri.

Halaman:

Tags

Terkini