Dengan demikian, persoalan yang dihadapi remaja bukan hanya berkaitan dengan gejolak hormon estrogen dalam tubuh. Ekosistem budaya modern yang semakin asing dan tidak menyediakan ruang aman untuk bertumbuh juga menjadi bagian dari persoalan tersebut.
Rumah Harus Kembali Jadi Tempat Bernapas
Untuk mencegah anak-anak tersesat dalam arus enkulturasi digital, proses sosialisasi dasar perlu dikembalikan ke tempat asalnya, yakni rumah.
Rumah tidak seharusnya menjadi tempat tambahan bagi anak untuk menghadapi tuntutan. Sebaliknya, rumah perlu menjadi ruang untuk beristirahat, mendapatkan ketenangan, dan memperoleh teladan.
“Rumah tidak boleh ikut-ikutan menjadi arena ujian yang dingin, melainkan harus kembali menjadi tempat bernapas,” kata Noviy.
Dalam ajaran Islam, peran keluarga sebagai fondasi pertama ditegaskan melalui Al-Qur'an Surah Al-Furqan ayat 74. Ayat tersebut memuat permohonan kepada Sang Khalik agar keturunan dijadikan qurrota a'yun, atau penyejuk mata dan penyenang hati, serta agar orang tua menjadi imam bagi orang-orang bertakwa.
Kata "pemimpin" dalam konteks tersebut tidak dimaknai sebagai sosok penguasa yang hanya mengatur. Orang tua juga diposisikan sebagai teladan hidup yang memberikan rasa aman dan ketenangan batin.
Nilai keteladanan tersebut berkaitan dengan kearifan lokal budaya Minangkabau. Dalam adat Minang, remaja putri ditempatkan pada posisi gadih rang gadang di bawah naungan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Anak gadis dibimbing melalui kelembutan rasa oleh ibu dan para Bundo Kanduang. Pola pengasuhan tersebut tidak mengandalkan bentakan atau paksaan, tetapi komunikasi yang halus dan sarat makna.
Hal tersebut tergambar dalam ungkapan: “Remaja putri bak bungo kambang, rancak di aromanyo, tapalihara dalam raso jo pareso”.
Anak perempuan diibaratkan sebagai bunga yang sedang mekar. Keindahannya terpelihara bukan karena dikurung, melainkan melalui raso jo pareso, yakni rasa empati, kesopanan, dan kontrol diri.
Ketika orang tua memberikan keteladanan, kebijaksanaan, dan keteguhan mental di rumah, anak dapat menyerap model kebudayaan yang sehat sebagai benteng alami dari pengaruh buruk.
Sekolah Jadi Tempat Pulang Kedua
Selain rumah, sekolah memiliki posisi penting dalam proses sosialisasi sekunder remaja. Sejak pagi hingga sore, lebih dari separuh waktu seorang remaja dihabiskan di sekolah.
Karena itu, sekolah tidak hanya dipandang sebagai tempat belajar mata pelajaran. Jika rumah merupakan tempat pulang pertama, sekolah semestinya menjadi tempat pulang kedua.
“Jika rumah adalah tempat pulang pertama, maka sekolah harus menjadi tempat pulang kedua,” ujar Noviy.
Namun, kondisi sekolah saat ini dapat berubah menjadi seperti pabrik nilai yang "dingin". Anak-anak dapat diadu satu sama lain dan dihargai berdasarkan pencapaian angka tinggi di atas kertas.