ragam

Dari Samoa hingga Minangkabau, Cara Budaya Membentuk Masa Remaja

Kamis, 1 Oktober 2026 | 09:10 WIB
Ilustrasi Remaja (Foto: Pixabay)

Ketika sekolah ikut menakar harga diri siswa hanya dari pencapaian akademis, kondisi tersebut justru dapat memperberat beban psikologis yang telah dihadapi anak dari lingkungan luar.

Karena itu, terdapat sejumlah langkah yang dapat dilakukan sekolah.

Pertama, menata ulang suasana belajar. Budaya sekolah perlu diubah dari lingkungan persaingan yang saling menjatuhkan menjadi ruang belajar yang saling merangkul, inklusif, dan saling menghargai.

Kedua, guru yang mendengar. Guru tidak hanya memaparkan materi pelajaran di kelas, tetapi juga hadir sebagai sosok dewasa yang mau mendengarkan dan memahami gejolak perasaan siswa. Guru juga perlu memberikan ruang aman ketika siswa merasa lelah.

Ketiga, berjalan sejajar dengan orang tua. Sekolah perlu "duduk bersama" dengan orang tua untuk menyamakan sudut pandang mengenai pengasuhan. Langkah tersebut diperlukan agar beban ekspektasi yang terlalu berat tidak ditumpukan kepada anak.

Bukan Sekadar Perubahan Hormon

Kecemasan dan stres yang dialami remaja perempuan tidak dapat hanya dijelaskan dengan perubahan hormon pubertas.

Pengalaman Margaret Mead di Samoa menunjukkan bagaimana kebudayaan yang dibangun bersama memiliki kekuatan dalam membentuk pengalaman remaja selama masa transisi menuju kedewasaan.

“Menyembuhkan rasa cemas dan stres pada remaja perempuan hari ini tidak bisa dilakukan hanya dengan menyalahkan perubahan hormon pubertas,” kata Noviy.

Dalam konteks tersebut, kebudayaan memiliki peran dalam menentukan apakah gejolak masa remaja dapat dikelola atau justru semakin diperkeruh.

“Seperti yang diungkap oleh Margaret Mead dari tanah Samoa, kebudayaan yang kita ciptakan bersama punya kekuatan besar: apakah ingin menjinakkan gejolak tersebut atau justru makin memperkeruhnya?” ujarnya.

Karena itu, sentuhan hangat orang tua di rumah yang sarat nilai dan keteladanan perlu dipadukan dengan lingkungan sekolah yang memanusiakan manusia.

Keduanya dapat menjadi perisai bagi remaja dalam menghadapi tekanan budaya dan digital yang mereka temui sehari-hari.

Ketika rumah kembali menjadi tempat berlabuh yang penuh kasih dan sekolah menjadi ruang tumbuh yang menenangkan, masa remaja tidak harus menjadi labirin yang menakutkan.

Fase tersebut dapat menjadi pintu masuk menuju kedewasaan yang tenang, tangguh, dan penuh rasa percaya diri. (*)

Halaman:

Tags

Terkini