ragam

Kopi Bantjah di Padang Disulap Jadi Cascara hingga Lilin Aromaterapi

Senin, 12 Oktober 2026 | 07:33 WIB
Kopi Bantjah dan produk turunannya berupa lilin aromaterapi. (Foto: PT Semen Padang)

Haipadang.com – Kopi Bantjah yang dikembangkan masyarakat Koto Baru, Kelurahan Limau Manis Selatan, Kecamatan Pauh, Kota Padang, mulai dimanfaatkan untuk menghasilkan beragam produk bernilai tambah. Tidak hanya dijual sebagai hasil perkebunan, kopi lokal tersebut kini diolah menjadi cookies, minuman kopi, lilin aromaterapi, cascara, selai kopi, hingga aneka kue.

Pengembangan produk turunan ini membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat. Program tersebut turut melibatkan perempuan dan generasi muda dengan dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Semen Padang.

Sebanyak 10 perempuan yang berasal dari RW 5 dan RW 6 Koto Baru saat ini terlibat dalam kegiatan pengolahan produk turunan Kopi Bantjah. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari upaya masyarakat memperluas pemanfaatan komoditas kopi, mulai dari bahan baku perkebunan hingga produk yang dapat dipasarkan kepada konsumen.

Diversifikasi produk tersebut menjadi langkah awal untuk meningkatkan nilai ekonomi kopi lokal. Masyarakat tidak lagi hanya mengandalkan aktivitas budidaya dan penjualan hasil panen, tetapi juga mulai mengembangkan keterampilan pengolahan yang memungkinkan kopi dimanfaatkan dalam berbagai bentuk produk.

Salah seorang penggerak pengembangan produk turunan Kopi Bantjah, Milawati, mengatakan gagasan tersebut mulai dijalankan setelah masyarakat memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui pelatihan yang mendapat dukungan PT Semen Padang.

Dari kegiatan pelatihan itu, masyarakat mengenal berbagai cara mengolah kopi menjadi produk dengan karakteristik berbeda. Hasilnya tidak terbatas pada makanan dan minuman, tetapi juga mencakup produk kreatif yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain.

“Untuk produk turunan Kopi Bantjah ada cookies, minuman kopi, lilin aromaterapi dari kopi, teh khas cascara dari kulit dan daging buah kopi yang dikeringkan, selai kopi, dan dua jenis kue yang juga sedang kami kembangkan,” ujar Milawati, dikutip Senin (12/10/2026).

Beragam produk tersebut masih dalam tahap pengembangan. Masyarakat mulai mencoba mengenalkan hasil olahan Kopi Bantjah kepada konsumen melalui kegiatan bazar yang diselenggarakan di sejumlah tempat di Kota Padang.

Menurut Milawati, pemasaran produk saat ini masih berfokus pada wilayah setempat. Jangkauan pasar yang terbatas berkaitan dengan produk turunan yang relatif baru dikembangkan sehingga masyarakat masih berupaya memperkenalkannya kepada calon konsumen.

“Untuk sementara masih sekitar Kota Padang. Karena produk turunannya masih baru kami buat, kemarin baru kami bawa ke bazar-bazar,” katanya.

Keikutsertaan dalam bazar menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan produk olahan Kopi Bantjah kepada masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, kelompok pengolah mulai membawa hasil pengembangan mereka ke ruang pemasaran di luar aktivitas perkebunan.

Meski demikian, pengembangan produk tidak hanya berorientasi pada penjualan. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk memperluas keterlibatan masyarakat dalam rantai usaha kopi, terutama bagi warga yang sebelumnya tidak secara langsung terlibat dalam kegiatan budidaya.

Milawati menjelaskan, perempuan di sekitar kawasan Koto Baru menjadi salah satu kelompok yang ingin diberdayakan melalui pengolahan produk turunan. Kelompok ini melibatkan warga dari RW 5 dan RW 6 yang kini mulai mengembangkan keterampilan untuk menghasilkan produk berbahan kopi.

“Kami berusaha memberdayakan ibu-ibu yang berada di sekitar Koto Baru, terutama di RW 5 dan 6. Yang aktif sekitar 10 orang. Mereka kami berdayakan untuk mengolah produk turunan kopi,” tuturnya.

Halaman:

Tags

Terkini