Keterlibatan perempuan tersebut memperluas ruang partisipasi masyarakat dalam pengembangan Kopi Bantjah. Jika sebelumnya kegiatan ekonomi kopi lebih banyak bertumpu pada petani yang menghasilkan bahan baku, kini terdapat kegiatan lanjutan berupa pengolahan produk yang dapat dikerjakan oleh warga lainnya.
Dengan demikian, potensi kopi mulai dikembangkan melalui lebih dari satu jenis aktivitas ekonomi. Selain menghasilkan buah kopi, masyarakat juga berupaya mengolah bahan tersebut menjadi produk yang memiliki bentuk pemanfaatan berbeda.
Pelatihan Buka Peluang Pengolahan Kopi
Peningkatan keterampilan menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan produk turunan Kopi Bantjah. Sebanyak lima warga telah mengikuti pelatihan pengolahan produk turunan kopi di Royal Asia Hotel.
Melalui pelatihan tersebut, peserta memperoleh pengetahuan mengenai berbagai jenis produk yang dapat dibuat dari kopi. Pengetahuan itu juga mencakup pemanfaatan bagian buah kopi yang sebelumnya belum banyak diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Milawati menyebut dukungan PT Semen Padang berperan dalam memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengikuti pelatihan dan mulai menerapkan keterampilan yang diperoleh.
“Kami sangat banyak mendapatkan dukungan dari PT Semen Padang. Kami diikutkan pelatihan di Royal Asia Hotel. Ada lima orang yang mengikuti pelatihan produk turunan ini. Kami mendapatkan beberapa jenis produk yang bisa dibuat dari turunan kopi, sehingga sekarang mulai kami kembangkan sedikit demi sedikit,” katanya.
Pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan tersebut menjadi dasar bagi masyarakat untuk mencoba mengembangkan berbagai olahan. Prosesnya dilakukan secara bertahap, seiring dengan upaya kelompok memperkenalkan produk kepada konsumen dan memperluas keterlibatan warga.
Salah satu produk yang mulai dikembangkan adalah cascara. Produk ini merupakan minuman seduhan yang dibuat dari kulit dan daging buah kopi yang dikeringkan.
Pemanfaatan bagian buah tersebut membuka peluang untuk mengolah bahan yang berpotensi menjadi limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Dengan pengolahan cascara, pemanfaatan kopi tidak hanya berpusat pada biji yang selama ini menjadi produk utama perkebunan.
Selain cascara, kelompok masyarakat juga mengembangkan lilin aromaterapi berbahan kopi. Produk tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan Kopi Bantjah mulai merambah bidang kreatif di luar makanan dan minuman.
Diversifikasi itu memperlihatkan adanya upaya masyarakat untuk mengenali berbagai kemungkinan penggunaan kopi. Bahan baku yang berasal dari komoditas perkebunan tersebut dicoba untuk diolah menjadi produk dengan fungsi dan sasaran konsumen yang berbeda.
Namun, pengembangan seluruh produk masih dilakukan secara bertahap. Pemasaran yang untuk sementara berpusat di Kota Padang menjadi bagian dari proses awal memperkenalkan hasil olahan kepada masyarakat.
Generasi Muda Ikut Dilibatkan Lewat Pelatihan Barista
Selain memberdayakan perempuan melalui pengolahan produk, pengembangan Kopi Bantjah juga menyasar generasi muda. Kelompok masyarakat berupaya membuka ruang keterlibatan anak muda melalui pelatihan barista.
Langkah tersebut diharapkan memperluas partisipasi generasi muda dalam kegiatan yang berkaitan dengan kopi. Keterlibatan mereka tidak hanya dibutuhkan dalam pengolahan bahan baku, tetapi juga dalam penyajian dan pemasaran produk kopi.
Menurut Milawati, pelatihan barista menjadi salah satu cara untuk melibatkan kelompok usia muda dalam pengembangan potensi Kopi Bantjah. Dengan begitu, pengembangan komoditas lokal tersebut diupayakan dapat menjangkau berbagai kalangan masyarakat.
Artikel Terkait
Guru Harus Pahami Keunikan Anak, Hindari Label Lambat Belajar
Daftar Harga Mobil BYD Oktober 2026: Seal dan Sealion 7 Naik Ratusan Juta
Mau Beli Pajero Sport atau Fortuner Bekas? Cek 7 Hal Ini Sebelum Transaksi