Inflasi Sumbar Naik 0,60% pada September, Ini Prakiraan BI hingga Akhir 2026

Photo Author
Redaksi, HaiPadang.com
- Minggu, 4 Oktober 2026 | 13:53 WIB
Ilustrasi Inflasi (Foto: Freepik)
Ilustrasi Inflasi (Foto: Freepik)

Selain cabai merah, beberapa komoditas lainnya juga memberikan tekanan terhadap inflasi September. Daging ayam ras, beras, cabai hijau, dan ikan tongkol masing-masing memberikan andil sebesar 0,03 persen.

Namun, tekanan tersebut tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas. Cabai rawit, tarif angkutan udara, emas perhiasan, jengkol, dan kentang menjadi komoditas yang memberikan kontribusi terhadap penurunan harga.

Harga cabai rawit mengalami penurunan seiring melimpahnya pasokan akibat perluasan area tanam. Sementara itu, tarif angkutan udara turun setelah berakhirnya periode libur.

Seluruh Daerah IHK Mengalami Inflasi

Dari sisi wilayah, seluruh kabupaten dan kota yang menjadi cakupan penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumbar mengalami inflasi pada September 2026.

Kabupaten Pasaman Barat mencatat inflasi bulanan tertinggi, yakni sebesar 1,11 persen. Berikutnya Kabupaten Dharmasraya sebesar 1,03 persen dan Kota Bukittinggi sebesar 0,98 persen.

Sementara itu, Kota Padang mencatat inflasi bulanan sebesar 0,33 persen.

Jika dilihat secara tahunan, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya dengan angka 4,42 persen. Selanjutnya Pasaman Barat mencatat 3,56 persen, Bukittinggi 3,43 persen, dan Padang 3,33 persen.

Perbedaan perkembangan inflasi antarwilayah tersebut menjadi perhatian dalam pengendalian harga, terutama terhadap komoditas pangan yang memiliki ketergantungan terhadap kelancaran produksi dan distribusi.

TPID Perkuat Pengendalian Harga

Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, TPID di seluruh Sumbar bersama BI dan Bulog terus memperkuat berbagai langkah pengendalian harga pangan.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengintensifkan Gerakan Pangan Murah (GPM) dan operasi pasar yang dilakukan secara lebih terarah.

Pelaksanaan intervensi tersebut menggunakan prinsip 5 Tepat, yaitu tepat waktu, tepat lokasi, tepat komoditas, tepat jumlah, dan tepat sasaran.

Pendekatan tersebut ditujukan agar intervensi yang dilakukan dapat menyesuaikan kondisi di lapangan dan lebih efektif dalam menjaga keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat.

Selain operasi pasar dan GPM, kerja sama antardaerah atau KAD juga terus dioptimalkan. Upaya tersebut diperkuat melalui business matching yang mempertemukan petani dengan off-taker atau pengumpul serta penyedia jasa logistik.

Penguatan kerja sama tersebut diarahkan untuk memperbaiki rantai pasok sehingga ketersediaan komoditas pangan dapat lebih terjaga dan distribusi antardaerah berjalan lebih baik.

Stok Cabai Merah Dipantau

BI Sumbar juga melakukan pemantauan terhadap kondisi pasokan cabai merah di sentra produksi. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Alahan Panjang, Kabupaten Solok.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Indra Kurniawan

Tags

Rekomendasi

Terkini

X