Lumin Park dan Kampung Guo Berada di Kawasan Relatif Datar
Perbedaan karakteristik wilayah hulu dan hilir juga terlihat dari posisi Lumin Park dan Kampung Guo berdasarkan data topografi.
Hasil analisis Demnas menunjukkan Lumin Park berada pada elevasi sekitar 36,1 meter di atas permukaan laut. Kemiringan lereng di kawasan tersebut hanya sekitar 0,62 derajat.
Sementara itu, Kampung Guo berada pada elevasi sekitar 22,7 meter di atas permukaan laut, dengan kemiringan lereng sekitar 1,17 derajat. Berdasarkan kedua parameter tersebut, kawasan Lumin Park dan Kampung Guo tergolong relatif datar.
Kondisi lahan yang landai tidak serta-merta membuat suatu kawasan terbebas dari ancaman banjir. Kedua wilayah tersebut menerima aliran air yang berasal dari daerah tangkapan di kawasan pegunungan.
Air hujan yang jatuh di hulu mengalir melalui anak-anak sungai sebelum terkumpul pada alur sungai utama. Ketika debit air meningkat hingga melampaui kapasitas sungai, air dapat meluap dan memasuki dataran banjir di sekitarnya.
Dian menegaskan bahwa karakteristik jaringan sungai di kedua lokasi perlu dibedakan dalam analisis. Lumin Park berkaitan dengan sistem Batang Lubuk Minturun dan Batang Aia Dingin, sedangkan Kampung Guo berhubungan dengan sistem sungai di kawasan Kuranji.
“Lumin Park berkaitan dengan sistem Batang Lubuk Minturun dan Batang Aia Dingin, sedangkan Kampung Guo berhubungan dengan sistem sungai kawasan Kuranji. Keduanya tidak boleh dianggap berada dalam satu DAS karena memiliki jaringan aliran dan daerah tangkapan berbeda,” jelasnya.
Pembedaan daerah aliran sungai tersebut penting agar penyebab banjir dan upaya penanganannya tidak disamaratakan. Setiap sistem sungai memiliki jaringan aliran serta daerah tangkapan air tersendiri yang perlu dipelajari berdasarkan karakteristik masing-masing.
Pengamatan lapangan di Lumin Park memberikan petunjuk tambahan mengenai jalur masuknya air ke kawasan permukiman. Air banjir diketahui datang dari arah timur melalui kawasan sungai yang berada di belakang kompleks perumahan, bukan melalui jalan masuk kompleks.
Temuan tersebut memperkuat indikasi bahwa banjir berkaitan dengan luapan sungai. Dengan demikian, persoalan yang terjadi tidak dapat dijelaskan semata-mata sebagai gangguan sistem drainase di lingkungan perumahan.
Selain kapasitas alur sungai, pertemuan sejumlah anak sungai juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Ketika debit dari beberapa anak sungai meningkat dalam waktu yang hampir bersamaan, permukaan air di bagian hilir dapat naik dengan cepat.
Risiko tersebut semakin perlu dicermati apabila kapasitas penampang sungai terbatas. Dalam kondisi demikian, peningkatan debit dapat membuat air lebih mudah meluap ke kawasan yang berada di sekitar alur sungai.
“Pertemuan beberapa aliran sungai juga perlu diperhatikan. Ketika peningkatan debit dari anak-anak sungai terjadi hampir bersamaan, muka air di bagian hilir dapat meningkat dengan cepat, terutama apabila kapasitas penampang sungai terbatas,” katanya.
Material Sedimen dari Pegunungan Dapat Memperbesar Risiko Banjir
Selain air yang mengalir dari kawasan hulu, material tanah dan batuan yang terbawa arus juga menjadi aspek penting dalam memahami banjir di Padang.
Dian menjelaskan, banjir dari kawasan pegunungan dapat membawa sedimen yang berasal dari berbagai proses alam maupun perubahan kondisi permukaan tanah. Material tersebut dapat terbentuk akibat erosi permukaan, longsoran lereng, pengikisan tebing sungai, hingga terangkatnya kembali endapan yang sebelumnya berada di dasar sungai.