Banjir Padang Bukan Sekadar Hujan, Ahli Ungkap Peran Sedimen dari Pegunungan

Photo Author
Redaksi, HaiPadang.com
- Kamis, 15 Oktober 2026 | 05:05 WIB
Banjir di Kota Padang pada Sabtu (10/10/2026) merendam pemukiman elit Lumin Park, di kawasan Lubuk Minturun. (Foto: Tangkap Layar Video Instagram sitinjau_lauik)
Banjir di Kota Padang pada Sabtu (10/10/2026) merendam pemukiman elit Lumin Park, di kawasan Lubuk Minturun. (Foto: Tangkap Layar Video Instagram sitinjau_lauik)

Dian menilai, kesimpulan mengenai penyebab banjir Oktober 2026 harus didasarkan pada bukti yang memadai. Analisis perubahan tutupan lahan perlu dipadukan dengan pemeriksaan sifat tanah, data curah hujan, serta dinamika sedimen di kawasan hulu.

“Karena itu, menyimpulkan bahwa banjir Oktober 2026 semata-mata disebabkan kerusakan hutan belum memiliki dasar pembuktian yang cukup. Analisis perubahan tutupan lahan, sifat tanah, curah hujan, dan dinamika sedimen diperlukan untuk menilai kondisi lingkungan hulu,” sebutnya.

Pendekatan tersebut diperlukan agar penjelasan mengenai banjir tidak berhenti pada dugaan. Setiap faktor yang diperkirakan berpengaruh perlu dinilai berdasarkan data dan kondisi lapangan, termasuk kemungkinan pengaruh perubahan lingkungan terhadap limpasan air dan pengangkutan sedimen.

Penanganan Banjir Perlu Mencakup Hulu hingga Hilir

Banjir yang kembali terjadi di lokasi yang sama menunjukkan pentingnya penanganan berbasis sistem daerah aliran sungai secara menyeluruh. Upaya penanganan tidak cukup hanya dilakukan setelah banjir surut dengan membersihkan material yang tertinggal di kawasan terdampak.

Dian menjelaskan, pemeriksaan kapasitas sungai, kestabilan tebing, kondisi jembatan, serta titik pertemuan anak sungai merupakan bagian penting yang perlu diperhatikan.

Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memahami kondisi alur sungai dan bagian-bagian yang berpotensi memengaruhi kelancaran aliran air. Terlebih, peningkatan debit yang terjadi secara bersamaan pada beberapa anak sungai dapat mendorong kenaikan muka air di wilayah hilir.

Di kawasan hulu, perlindungan vegetasi dan pengendalian aktivitas pada lereng yang rentan perlu diperkuat. Langkah ini berkaitan dengan upaya menjaga kondisi tanah dan mengurangi potensi gangguan terhadap kestabilan lereng.

Sementara itu, kawasan hilir memerlukan penataan ruang yang mempertimbangkan keberadaan dataran banjir. Wilayah yang tampak aman ketika debit sungai berada dalam kondisi normal belum tentu memiliki tingkat keamanan yang sama saat hujan ekstrem terjadi.

Pertimbangan terhadap dataran banjir menjadi penting karena air yang meluap dapat memasuki kawasan di sekitar sungai. Dengan memahami karakteristik wilayah tersebut, penataan ruang dapat mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul ketika aliran sungai meningkat.

Selain penanganan fisik, pengembangan sistem peringatan dini berbasis curah hujan dan tinggi muka air sungai juga menjadi salah satu kebutuhan yang disoroti Dian.

Pemantauan terhadap dua parameter tersebut dapat membantu memberikan informasi mengenai perkembangan kondisi hidrologi. Informasi yang terintegrasi dengan kondisi wilayah berpotensi mendukung identifikasi kawasan rawan dan penentuan prioritas penanganan.

Dalam analisisnya, integrasi data Demnas, Global Precipitation Measurement (GPM), Sentinel-2, dan pengamatan lapangan dapat dimanfaatkan untuk membantu mengidentifikasi kawasan rawan banjir.

Demnas menyediakan informasi mengenai bentuk permukaan bumi, termasuk elevasi dan kemiringan lereng. Data GPM dapat digunakan dalam kajian curah hujan, sedangkan citra Sentinel-2 membantu mengamati kondisi tutupan lahan dan perubahan permukaan wilayah. Hasil pengolahan data tersebut perlu dikaitkan dengan pengamatan lapangan agar karakteristik kawasan dapat dipahami secara lebih menyeluruh.

Meski demikian, data kejadian banjir sebelumnya belum cukup untuk menentukan persentase kemungkinan banjir berulang pada suatu lokasi. Perhitungan probabilitas memerlukan data curah hujan dan debit sungai dalam jangka panjang, disertai pemodelan hidrologi dan hidraulika.

Pemodelan tersebut diperlukan untuk menilai hubungan antara hujan, respons aliran, serta perilaku air di dalam jaringan sungai. Dengan demikian, perkiraan risiko banjir tidak hanya bertumpu pada kejadian yang pernah berlangsung, tetapi juga mempertimbangkan data dan perhitungan yang relevan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Indra Kurniawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X