ragam

Batas Tipis Peduli dan Kritik Toksik, Ini Penjelasan Guru Besar Unand

Jumat, 9 Oktober 2026 | 07:50 WIB
Ilustrasi Kritik (Foto: Magnific)

Bisa jadi, orang tersebut sedang menikmati posisi psikologis yang berkuasa dengan berlindung di balik alasan menyampaikan nasihat secara jujur.

Hardisman juga menjelaskan bahwa kritik toksik tidak selalu muncul akibat perasaan superior. Perilaku tersebut dapat berawal dari tekanan emosional yang belum terselesaikan.

Seseorang yang mengalami konflik keluarga, merasa tidak dihargai, terus-menerus berada di bawah tekanan, atau hidup dalam kecemasan berkepanjangan dapat membawa beban emosionalnya ke lingkungan lain.

Ketika tidak mampu menghadapi sumber masalah yang memiliki kekuasaan lebih besar, emosi tersebut dapat dialihkan kepada sasaran yang dirasa lebih aman. Dalam neuropsikologi, mekanisme ini dikenal sebagai displacement.

Misalnya, seorang karyawan dimarahi atasannya, tetapi tidak mampu membalas. Ketika pulang, ia melampiaskan kemarahannya kepada pasangan. Jika pasangan tidak menjadi sasaran, kemarahan tersebut dapat beralih kepada anak.

Dalam bentuk yang lebih halus, tekanan emosional serupa dapat muncul melalui komentar sinis terhadap organisasi, kolega, masyarakat, atau siapa pun yang tersedia sebagai sasaran.

Perspektif kognitif Aaron Beck juga membantu menjelaskan fenomena tersebut. Tekanan berkepanjangan dapat memperkuat skema negatif sehingga seseorang lebih mudah memperhatikan informasi yang sesuai dengan keyakinan negatifnya.

Akibatnya, kebaikan dan keberhasilan menjadi tidak terlihat, sedangkan kegagalan tampak jauh lebih menonjol. Pola pikir ini dapat membuat seseorang terus menemukan alasan untuk mengkritik, meskipun terdapat aspek positif yang layak diakui.

Empat Cara Menyampaikan Kritik agar Tidak Menjadi Toksik

Hardisman menjelaskan bahwa kritik objektif pada dasarnya merupakan nasihat yang lahir dari kepedulian terhadap kebaikan, kebenaran, dan keinginan untuk memperbaiki keadaan. Namun, kritik hanya dapat menjadi nasihat yang baik apabila disampaikan dalam koridor yang tepat.

Pertama, kritik harus berangkat dari kepedulian, bukan keinginan menunjukkan keunggulan diri.

Nasihat yang benar bertujuan membantu seseorang menyadari kekeliruan yang mungkin tidak diketahuinya dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Kritik tidak semestinya digunakan untuk memenangkan perdebatan, mempermalukan orang lain, atau mempertontonkan kesalehan pemberi nasihat.

Dalam perspektif Islam, nasihat merupakan bagian penting dari agama. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Ad-diinu an-naṣiḥah” yang berarti agama adalah nasihat (HR Muslim, Hadis Arba'in an-Nawawiyah ke-7).

Kedua, kritik harus didasarkan pada fakta yang dapat diperiksa.

Kritik objektif tidak dibangun dari prasangka, kabar yang belum terverifikasi, atau kesimpulan yang semata-mata didasarkan pada emosi pribadi.

Prinsip tabayyun dalam Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat ayat 6, mengajarkan pentingnya memeriksa informasi sebelum menjadikannya dasar untuk menilai atau menyalahkan seseorang.

Halaman:

Tags

Terkini