Batas Tipis Peduli dan Kritik Toksik, Ini Penjelasan Guru Besar Unand

Photo Author
Redaksi, HaiPadang.com
- Jumat, 9 Oktober 2026 | 07:50 WIB
Ilustrasi Kritik (Foto: Magnific)
Ilustrasi Kritik (Foto: Magnific)

Kritik Toksik Bisa Menjadi Pertahanan Ego

Berbeda dari kritik objektif, kritik yang menjadi mekanisme pertahanan ego tidak lagi berfokus pada persoalan yang perlu diperbaiki. Kritik tersebut justru digunakan untuk mempertahankan perasaan bahwa diri sendiri lebih benar daripada orang lain.

Perilaku ini dapat terlihat melalui pernyataan seperti, “Saya hanya menyampaikan fakta”, “Saya memang orangnya blak-blakan”, atau “Kalau tidak kuat dikritik, jangan bekerja di tempat umum”.

Padahal, kejujuran tidak identik dengan kekasaran. Kebenaran dapat disampaikan tanpa penghinaan, sedangkan ketegasan tidak mengharuskan seseorang merendahkan orang lain.

Pola kritik yang tidak sehat dapat terlihat dari seseorang yang terus-menerus mencari kesalahan organisasi. Ketika program berhasil, keberhasilan tersebut dianggap biasa saja. Namun, ketika program gagal, ia segera mengatakan, “Saya sudah bilang dari awal.”

Ketika pimpinan mengambil keputusan A, ia mengkritiknya. Setelah keputusan diubah menjadi B mengikuti kritik tersebut, ia tetap mencari kekurangan. Saat orang lain memperoleh penghargaan atau mencapai keberhasilan, ia justru berusaha menemukan kelemahannya.

Menurut Hardisman, seseorang bisa saja benar dalam satu kritik, tetapi tetap memiliki pola kritik yang tidak sehat.

“Seseorang dapat benar dalam satu kritik dan tetap memiliki pola kritik yang tidak sehat. Fakta bahwa kritiknya kadang benar tidak otomatis membuat motifnya sehat,” kata Hardisman.

Dalam situasi tersebut, seseorang mungkin bukan lagi memperjuangkan kualitas, melainkan mempertahankan posisi sebagai orang yang paling tahu, paling sadar, paling kritis, atau bahkan paling bermoral.

Perspektif psikologi Alfred Adler membantu menjelaskan fenomena tersebut melalui konsep inferioritas dan kompensasi berlebihan. Perasaan rendah diri dapat mendorong seseorang membangun perasaan superior sebagai cara mengatasi ketidaknyamanan yang dialaminya.

Sebagai contoh, mahasiswa yang tidak memiliki prestasi atau karya dapat terus mengkritik karya dan pencapaian mahasiswa lain. Ia tidak harus memiliki pencapaian besar untuk merasa lebih unggul. Cukup dengan menemukan kekurangan orang lain, ia dapat membangun perasaan superior.

Dalam pola tersebut, seseorang berusaha terlihat lebih baik bukan melalui pencapaian dirinya sendiri, melainkan dengan menurunkan nilai orang lain.

“Superioritas dibangun bukan melalui pencapaian, melainkan melalui penurunan nilai orang lain,” sebut Hardisman

Mengaku Jujur Tidak Selalu Berarti Objektif

Bentuk kritik lain yang perlu diperhatikan adalah brutal honesty, yakni kejujuran yang dijadikan pembenaran untuk mengatakan apa pun tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Kebenaran membutuhkan akurasi dan integritas. Dalam hubungan antarmanusia, keduanya juga perlu disertai kebijaksanaan.

Jika seseorang mengaku hanya menyampaikan kejujuran, tetapi selalu memilih kata-kata yang paling menyakitkan, menyerang pribadi, tidak pernah memberikan solusi, dan menikmati ketidaknyamanan orang lain, perilaku tersebut patut dipertanyakan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Indra Kurniawan

Tags

Rekomendasi

Terkini

X