Batas Tipis Peduli dan Kritik Toksik, Ini Penjelasan Guru Besar Unand

Photo Author
Redaksi, HaiPadang.com
- Jumat, 9 Oktober 2026 | 07:50 WIB
Ilustrasi Kritik (Foto: Magnific)
Ilustrasi Kritik (Foto: Magnific)

Seseorang mungkin melihat kelemahan dalam sebuah keputusan, tetapi belum tentu mengetahui seluruh pertimbangan yang melatarbelakanginya. Karena itu, kritik perlu disampaikan dengan keterbukaan terhadap koreksi dan kesediaan memahami perspektif pihak lain.

Hardisman menegaskan bahwa nasihat objektif tidak harus selalu menyenangkan. Kritik boleh disampaikan secara tegas dan menunjukkan kesalahan dengan jelas, tetapi ketegasan tidak boleh berubah menjadi penghinaan.

Batas antara kepedulian dan kritik toksik terletak pada tujuan, dasar argumentasi, cara penyampaian, serta kesediaan membantu memperbaiki keadaan.

Kritik yang sehat mengandung kebenaran, didasarkan pada fakta, mempertimbangkan kemaslahatan, dan memberi ruang bagi perbaikan. Sebaliknya, kritik yang hanya digunakan untuk mempertahankan ego berisiko menjadikan kelemahan orang lain sebagai sarana untuk meninggikan diri.

Sebelum mengkritik, seseorang perlu mengevaluasi apakah kritik tersebut benar-benar ditujukan untuk memperbaiki keadaan atau hanya untuk membuat orang lain terlihat buruk.

Sebab, kritik yang baik bukan sekadar menunjukkan apa yang salah, melainkan juga membantu membuka jalan menuju keadaan yang lebih baik. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Indra Kurniawan

Tags

Rekomendasi

Terkini

X