ragam

Batas Tipis Peduli dan Kritik Toksik, Ini Penjelasan Guru Besar Unand

Jumat, 9 Oktober 2026 | 07:50 WIB
Ilustrasi Kritik (Foto: Magnific)

Orang yang benar-benar berniat memberikan nasihat perlu membedakan antara mengetahui bahwa sesuatu salah dan sekadar merasa bahwa sesuatu itu salah.

Ketiga, cara penyampaian menentukan kualitas kritik.

Fakta dan data yang benar belum tentu menjadikan kritik sebagai nasihat yang baik apabila disampaikan dengan cara yang menyakiti atau merendahkan.

Dalam Surah Thaha ayat 44, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara kepada Firaun dengan qaulan layyinan, yakni perkataan yang lemah lembut.

Prinsip tersebut mengingatkan bahwa kelembutan tetap penting dalam menyampaikan kebenaran. Nasihat perlu mempertimbangkan waktu, kondisi psikologis, dan tempat yang tepat. Kelemahan seseorang juga tidak seharusnya dijadikan tontonan publik.

“Tujuan nasihat adalah membuka pintu perubahan, bukan menutup pintu harga diri,” tambah Hardisman.

Prinsip nasihat secara rahasia yang dikaitkan dengan Imam Al-Syafi'i juga menekankan bahwa penyampaian secara pribadi merupakan bentuk kepedulian, sedangkan teguran di hadapan orang banyak mudah berubah menjadi penghinaan.

Hardisman menjelaskan, apabila seseorang melihat ketidakbenaran pada atasannya atau ketidakkonsistenan sahabatnya, kritik objektif sebaiknya disampaikan secara baik dan langsung kepada pihak yang bersangkutan, disertai alternatif solusi.

Sebaliknya, jika persoalan tersebut tidak disampaikan kepada orang yang bersangkutan, tetapi justru diceritakan kepada orang lain atau diumbar dalam percakapan dan media daring, tindakan tersebut berisiko berubah menjadi upaya merendahkan, bukan memberikan nasihat.

Keempat, kritik harus berfokus pada persoalan dan solusi, bukan menyerang kehormatan pribadi.

Koreksi seharusnya diarahkan kepada keputusan, argumentasi, atau tindakan yang bermasalah, bukan karakter, harga diri, maupun masa lalu seseorang.

Pernyataan seperti “Keputusan ini memiliki kelemahan karena...” masih berada dalam wilayah kritik konstruktif. Sebaliknya, kalimat “Memang kamu dari dulu tidak pernah becus” menunjukkan pergeseran dari koreksi terhadap persoalan menjadi serangan pribadi.

Dalam perspektif Islam, pergeseran tersebut bukan sekadar persoalan gaya komunikasi, melainkan juga berkaitan dengan akhlak.

“Kritik objektif fokus pada persoalan dan mencari solusi, bukan menyerang kehormatan pribadi,” ungkap Hardisman.

Kritik yang Baik Membuka Jalan Perbaikan

Kritik yang sehat membutuhkan kesadaran bahwa seseorang tidak mengetahui seluruh keadaan secara utuh. Pemberi nasihat bukan hakim atas keseluruhan pribadi orang lain maupun sebuah institusi.

Halaman:

Tags

Terkini