ESC merupakan sistem yang membantu menjaga kestabilan kendaraan dalam kondisi tertentu. Sistem tersebut berkaitan dengan upaya mempertahankan kendali kendaraan ketika menghadapi situasi yang berpotensi memengaruhi stabilitasnya.
Karena itu, keluhan mengenai ESC perlu dibedakan dari sekadar gangguan kenyamanan berkendara. Aktivasi sistem, terutama jika disertai gejala lain, perlu diperiksa untuk mengetahui apakah kondisi tersebut merupakan respons sistem terhadap situasi berkendara atau berkaitan dengan masalah teknis.
Hal serupa berlaku pada keluhan respons pedal akselerator. Pengemudi membutuhkan respons kendaraan yang sesuai ketika mengatur kecepatan, termasuk saat melewati jalan menanjak, menurun, atau berbelok. Jika respons pedal tidak muncul sebagaimana mestinya, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan pengemudi mengendalikan laju kendaraan.
Suara berdecit yang dilaporkan dari roda depan juga menjadi bagian dari gejala yang perlu ditelusuri. Namun, tanpa pemeriksaan langsung, suara tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari komponen tertentu.
Sampai informasi dalam laporan tersebut tersedia, belum ada hasil pemeriksaan teknis yang memastikan penyebab aktivasi ESC, suara berdecit pada roda depan, maupun respons akselerator yang dikeluhkan pengguna. Belum ada pula bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa sistem ESC pada Jaecoo J5 EV mengalami kerusakan berdasarkan laporan tersebut.
Oleh sebab itu, kasus pada Mei 2026 perlu diposisikan sebagai keluhan pengguna yang masih membutuhkan verifikasi lebih lanjut. Gejala yang diceritakan dalam forum tidak dapat langsung digeneralisasi sebagai kondisi yang dialami seluruh unit kendaraan dengan model yang sama.
3. Pipa Pendingin Baterai Jaecoo J5 EV Rusak pada Juli 2026
Persoalan lain dilaporkan oleh pemilik Jaecoo J5 EV bernama Theodorus Herutomo pada Juli 2026. Gangguan itu terjadi ketika ia sedang melakukan perjalanan menuju Semarang.
Theodorus mengaku mendengar bunyi “pletak” dari bagian bawah kendaraan. Setelah itu, indikator berbentuk kura-kura berwarna hijau menyala pada panel instrumen mobil.
Ia kemudian mematikan kendaraan selama sekitar 40 menit. Setelah jeda tersebut, kondisi mobil sempat kembali normal. Namun, indikator yang sama muncul kembali pada hari berikutnya sehingga kendaraan dibawa ke bengkel resmi Jaecoo di Semarang untuk diperiksa.
Pemeriksaan pada 23 Juli 2026 menemukan sejumlah kerusakan fisik di bagian bawah kendaraan. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, Jaecoo Indonesia menemukan bekas benturan eksternal dan deformasi pada pelindung bawah baterai.
Pemeriksaan juga mengungkap kerusakan pada pipa pendingin baterai. Kerusakan itu menyebabkan cairan pendingin bocor dari sistem manajemen termal kendaraan.
Sistem pendingin baterai merupakan bagian penting pada mobil listrik karena berhubungan dengan pengaturan temperatur baterai. Kerusakan pada pipa dan kebocoran cairan pendingin perlu ditangani agar kondisi sistem tersebut dapat diperiksa dan diperbaiki sesuai kebutuhan.
Dalam klarifikasi yang disampaikan pada Agustus 2026, Jaecoo menyatakan bahwa kerusakan tersebut berkaitan dengan benturan dari luar kendaraan, bukan cacat produksi. Dengan demikian, penjelasan produsen untuk kasus ini mengaitkan kerusakan fisik pada bagian bawah kendaraan dengan benturan eksternal.
Perbaikan kendaraan kemudian diselesaikan pada 18 Agustus 2026. Biaya penggantian komponen dalam kasus tersebut ditanggung melalui klaim asuransi.
Kronologi ini memperlihatkan perbedaan antara keluhan yang penyebabnya belum terverifikasi dan kerusakan yang telah ditemukan melalui pemeriksaan. Dalam kasus Theodorus, hasil pemeriksaan mengidentifikasi deformasi pada pelindung bawah baterai serta kerusakan pipa pendingin yang menyebabkan kebocoran cairan.
Artikel Terkait
Kawasaki Versys 900 Resmi Diumumkan, Harga Mulai Rp 244 Juta
Mengatur Keuangan di Era “In This Economy”, 7 Langkah agar Gaji Lebih Terkendali
Baru 4 Bulan Dipakai, Jaecoo J5 EV Alami Masalah Sensor BMS, Kecepatan Mentok 20 Km/Jam