Haipadang.com – Terjebak di jalan raya ketika asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menutupi jalur perjalanan dapat membahayakan keselamatan pengendara. Dalam kondisi jarak pandang yang terbatas, pengemudi perlu tetap tenang dan mengambil keputusan secara tepat, termasuk mempertimbangkan untuk menghentikan perjalanan apabila situasi sudah tidak aman.
Pengamat keselamatan dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengingatkan pengendara agar tidak memaksakan diri menerobos kepungan asap tebal. Menurutnya, tindakan tersebut memiliki risiko besar karena pengemudi tidak dapat melihat kondisi jalan dengan jelas.
"Daripada memaksa menerobos, hal itu sama saja seperti berkendara dengan mata tertutup," tegas Jusri melalui sambungan telepon, Jumat (16/10/2026).
Ketika asap karhutla menghalangi pandangan, pengendara perlu memprioritaskan keselamatan diri dan pengguna jalan lain. Jika memungkinkan, kendaraan harus diarahkan menuju tempat aman di luar jalur utama lalu lintas. Langkah ini juga penting agar kendaraan tidak menghambat pergerakan armada darurat maupun petugas pemadam kebakaran yang sedang menuju lokasi.
Nyalakan Lampu dan Tutup Sirkulasi Udara Mobil
Salah satu langkah awal yang perlu dilakukan saat menghadapi kondisi darurat tersebut adalah menyalakan lampu utama dan lampu kabut. Kedua lampu itu membantu pengguna jalan lain mendeteksi keberadaan kendaraan ketika jarak pandang menurun akibat asap pekat.
Bagi pengemudi mobil, pengaturan sistem pendingin udara atau AC juga perlu diperhatikan. Pengemudi dianjurkan mengaktifkan fitur sirkulasi udara tertutup agar udara dari luar tidak terus masuk ke kabin. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi masuknya gas beracun dan partikel mikro sisa pembakaran ke dalam kendaraan.
Situasi berbeda dihadapi pengendara sepeda motor karena tubuh mereka terpapar langsung oleh udara di sekitar jalan. Oleh sebab itu, penggunaan masker pelindung pernapasan yang terpasang rapat dan kacamata khusus menjadi hal penting untuk membantu mengurangi paparan asap serta meminimalkan risiko iritasi mata yang parah selama proses evakuasi.
Meski demikian, pengendara tetap perlu memperhatikan kondisi sekitar dan tidak memaksakan perjalanan ketika asap semakin tebal. Keputusan untuk melanjutkan perjalanan harus mempertimbangkan tingkat visibilitas dan potensi bahaya yang terlihat di jalur yang dilalui.
Hentikan Perjalanan jika Jarak Pandang Tertutup
Ketika titik api terlihat semakin dekat atau jarak pandang sudah tertutup sepenuhnya, perjalanan harus segera dihentikan. Pengemudi perlu mencari lokasi perlindungan yang jauh dari sumber api dan semak belukar kering yang berpotensi memperbesar bahaya kebakaran.
Pemilihan tempat untuk menghentikan kendaraan juga tidak boleh sembarangan. Pengendara diminta menghindari area di sekitar padang rumput atau lahan gambut yang mudah tersambar api. Kendaraan sebaiknya ditempatkan di area terbuka dengan permukaan keras, seperti beton atau aspal bersih, yang memiliki sedikit bahan mudah terbakar.
Keberadaan kendaraan di lokasi yang berisiko dapat memperburuk keadaan apabila api meluas mendekati tempat pemberhentian. Karena itu, pengemudi perlu memperhatikan arah penyebaran api dan kondisi lingkungan sebelum menentukan tempat berlindung.
Jika situasi mengharuskan pengendara meninggalkan kendaraan demi keselamatan, evakuasi dapat dilakukan dengan berjalan kaki menjauhi arah tiupan angin. Asap dan api dapat bergerak mengikuti arah angin. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, bergerak ke arah menyamping terhadap arah angin disebut sebagai pilihan jalur evakuasi yang lebih rasional dalam panduan ini.
Pengendara juga perlu membawa barang pribadi yang benar-benar penting, seperti dokumen penting dan ponsel. Ponsel dapat digunakan untuk memantau informasi darurat di tengah situasi yang berkembang. Namun, barang bawaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menunda evakuasi ketika kondisi sudah membahayakan.
Apabila api telanjur membesar di sekitar lokasi kendaraan berhenti, pengendara tidak boleh mengambil risiko dengan kembali ke kendaraan. Keselamatan diri harus menjadi pertimbangan utama saat menentukan langkah berikutnya di tengah kepungan asap karhutla. (*)
Artikel Terkait
Karhutla Meluas, Kabut Asap Bisa Mengancam Pertanian Meski Lahan Tak Terbakar
Survei SMRC Ungkap Mayoritas Warga Tak Puas Kinerja Prabowo, Angkanya Tembus 53,4%
Tesla Pamer Roadster Terbang dengan Pendorong SpaceX, Produksi Dijadwalkan 2028
Karhutla Bromo Tewaskan 4 Orang, Begini Kronologi 6 Korban Terjebak Api