Keberadaan taman TOGA membuat pemanfaatan tanaman herbal tidak hanya berlangsung dalam bentuk penyuluhan. Warga juga memiliki ruang untuk menanam dan merawat tanaman herbal di lingkungan sendiri. Temulawak menjadi bagian dari tanaman yang dapat dibudidayakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Pembentukan kelompok tersebut juga diarahkan agar manfaat kegiatan dapat berkembang lebih luas. Selain berkaitan dengan kesehatan dan kebersihan keluarga, pemanfaatan tanaman herbal lokal dapat menjadi bagian dari peluang pengembangan ekonomi kreatif yang berbasis pada potensi lingkungan masyarakat.
Ketika temulawak ditanam dan dikembangkan melalui taman TOGA, masyarakat memiliki sumber bahan herbal yang dapat dimanfaatkan. Tanaman tersebut kemudian dapat diperkenalkan dalam bentuk pemanfaatan yang lebih beragam, termasuk melalui pengolahan menjadi produk seperti sabun cair.
Dengan demikian, pemberian nilai tambah terhadap temulawak tidak hanya terjadi pada saat tanaman diolah menjadi produk. Nilai tambah juga muncul dari pengetahuan mengenai budidaya, pengolahan, keamanan, serta keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan mereka.
Aspek keamanan tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan produk berbahan herbal. Bahan alami membutuhkan proses pengolahan yang tepat. Formulasi, kebersihan, konsentrasi bahan, serta cara penggunaan harus diperhatikan ketika tanaman herbal dikembangkan menjadi produk kosmetik atau perawatan kulit.
Hal tersebut menjadi penting dalam kegiatan pemberdayaan karena masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada potensi bahan herbal, tetapi juga diberikan pemahaman bahwa produk yang digunakan pada kulit harus memperhatikan aspek keamanan.
Dari Tanaman hingga Produk
Rangkaian kegiatan di Seberang Padang memperlihatkan pendekatan pemberdayaan yang menghubungkan beberapa tahapan sekaligus. Peserta diperkenalkan pada temulawak, diberikan edukasi mengenai manfaatnya, mengikuti proses pembuatan sabun cair, dan kemudian mendapatkan bibit untuk ditanam kembali.
Dengan pola tersebut, pemanfaatan temulawak tidak berhenti pada kegiatan menghasilkan sabun. Budidaya tanaman juga menjadi bagian dari proses yang diharapkan dapat berlangsung di tengah masyarakat.
Pengalaman membuat sabun memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat secara langsung bagaimana bahan herbal dapat diberikan nilai tambah. Sementara itu, penanaman 30 bibit temulawak memberikan pengenalan terhadap pentingnya keberlanjutan bahan yang digunakan.
Rangkaian tersebut juga menunjukkan peran kelompok perempuan dalam pemanfaatan potensi lokal. Sebanyak 20 peserta yang mengikuti praktik mendapatkan pengalaman langsung dalam proses pembuatan sabun, dengan sebagian besar peserta merupakan perempuan berusia lebih dari 50 tahun dan 95 persen di antaranya merupakan ibu rumah tangga.
Pendampingan dari dosen, mahasiswa PPDS, dan dokter muda membuat setiap kelompok peserta memperoleh bimbingan selama praktik. Tiga kelompok dibentuk untuk mengikuti proses pembuatan sabun secara bertahap, mulai dari pencampuran bahan, pengaturan kekentalan, pengukuran pH, hingga pengemasan dan pelabelan.
Hasil akhirnya berupa sekitar 4 liter sabun cair berbahan temulawak yang kemudian dibawa pulang peserta untuk dimanfaatkan. Produk tersebut menjadi hasil nyata dari proses pembelajaran berbasis praktik yang diberikan dalam kegiatan.
Di sisi lain, peningkatan hasil evaluasi juga memperlihatkan perubahan yang terukur setelah peserta mengikuti rangkaian kegiatan. Pengetahuan meningkat dari rata-rata 70 persen pada pre-test menjadi 100 persen pada post-test. Sikap dan perilaku juga mengalami peningkatan dari 79,65 persen menjadi 91,25 persen.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memberikan perubahan pada pengetahuan serta sikap dan perilaku peserta.
Berpeluang Dikembangkan Berkelanjutan
Ke depan, kegiatan tersebut diharapkan dapat dilanjutkan melalui pendampingan kelompok, pengembangan produk, edukasi mengenai keamanan kosmetik herbal, serta pemanfaatan dan budidaya tanaman herbal secara berkelanjutan.